JABARONLINE.COM - Matahari pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah tahu bahwa duniaku baru saja runtuh tanpa peringatan. Tidak ada lagi suara tawa di ruang makan, hanya keheningan yang menyesakkan dada dan memaksa air mata jatuh.

Kepergian Ayah meninggalkan lubang besar yang tak hanya menguras emosi, tapi juga memaksa pundakku memikul beban yang belum pernah kubayangkan. Aku harus memilih antara terus meratap di sudut kamar atau mulai melangkah di atas jalanan yang penuh duri.

Setiap tagihan yang datang menjadi pengingat kasar bahwa masa kecilku telah usai tanpa pemberitahuan resmi. Aku belajar menghargai setiap butir nasi dan tetesan keringat yang dulu kuanggap remeh saat masih hidup dalam zona nyaman.

Ego masa mudaku sempat memberontak, menolak kenyataan bahwa kini akulah yang harus menjadi tiang penyangga utama rumah ini. Namun, dalam setiap lelah yang mendera di penghujung hari, aku menemukan potongan-potongan diriku yang jauh lebih kuat.

Kedewasaan ternyata bukan tentang angka di kartu identitas, melainkan tentang kesediaan untuk menelan pahitnya tanggung jawab dengan lapang dada. Aku mulai memahami bahwa pengorbanan adalah bahasa cinta yang paling murni dan tidak memerlukan tepuk tangan.

Aku menyadari bahwa setiap bab yang kutulis saat ini adalah bagian dari Novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga. Luka-luka ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan tinta hitam yang mempertegas karakter utama dalam ceritaku sendiri.

Kini, aku tak lagi takut pada mendung yang menggelayut di cakrawala karena aku sudah tahu cara menari dengan anggun di bawah hujan. Langkahku mungkin masih sedikit gemetar, tapi arahnya kini jauh lebih pasti dan memiliki tujuan yang jelas.

Melihat ke belakang, aku bersyukur atas badai hebat yang pernah memorak-porandakan kenyamananku yang semu itu. Tanpa kehancuran tersebut, aku mungkin tidak akan pernah mengenal sosok dewasa yang kini menatap balik dengan tegar dari balik cermin.

Pada akhirnya, mendewasa adalah perjalanan pulang menuju diri sendiri yang lebih bijaksana dan penuh penerimaan. Sebab, permata yang paling indah hanya bisa terbentuk di bawah tekanan yang paling hebat, bukan?