Dulu, saya selalu berpikir kedewasaan adalah pencapaian usia, bukan akumulasi pengalaman. Hidup saya adalah rangkaian kemudahan yang teratur; buku-buku tebal, kopi hangat, dan kebebasan tanpa beban. Semua itu mendadak runtuh saat surat wasiat itu tiba, memaksa saya mengambil alih ‘Dunia Pustaka’, penerbitan kecil milik mendiang kakek yang ternyata menyimpan utang sebesar gunung.
Kepanikan itu nyata, dingin, dan menusuk. Saya yang terbiasa memimpin diskusi filosofis di kampus, kini harus memimpin rapat anggaran dengan wajah-wajah skeptis dan mata yang menuntut kepastian. Setiap keputusan terasa seperti mempertaruhkan nasib belasan keluarga yang bergantung pada gaji bulanan mereka.
Malam-malam saya berubah menjadi ruang isolasi, ditemani tumpukan laporan keuangan yang rumit dan naskah-naskah usang. Saya membuat kesalahan—kesalahan besar yang hampir membuat kami bangkrut—namun dari sana saya belajar sebuah kebenaran brutal: kematangan sejati lahir dari keberanian mengakui kelemahan diri sendiri.
Saya mulai melepaskan ego akademis saya. Saya belajar mendengarkan suara operator mesin cetak, memahami keluh kesah kurir pengantar buku, dan merasakan denyut nadi pasar yang brutal. Proses ini menyakitkan, seperti kulit lama yang dikupas paksa, namun di bawahnya muncul lapisan yang lebih kuat dan tahan banting.
Ternyata, babak terberat dalam Novel kehidupan saya bukanlah mencari jati diri di tengah hiruk pikuk kota, melainkan menemukan diri saya di tengah tanggung jawab yang tak pernah saya minta. Setiap sen yang berhasil saya selamatkan, setiap karyawan yang tersenyum lega, adalah babak baru yang mengubah sudut pandang saya tentang sukses.
Saya menemukan bahwa kedewasaan bukan tentang tahu semua jawaban, melainkan tentang ketenangan saat menghadapi ketidakpastian. Ini adalah seni menyeimbangkan antara idealisme kakek dalam menjaga kualitas sastra dan realitas kejam pasar yang menuntut efisiensi.
Penerbitan itu perlahan bangkit, bukan karena keajaiban modal, melainkan karena keringat dan air mata yang kami tumpahkan bersama. Saya tidak lagi hanya menjadi manajer; saya menjadi pelayan bagi visi kakek dan harapan orang-orang yang bekerja di bawah atap tua itu.
Kini, saat saya menatap gedung yang berdiri tegak di bawah langit senja, saya tahu bahwa Aruna yang dulu hilang sudah digantikan oleh seseorang yang lebih utuh. Namun, apakah kedewasaan ini berarti akhir dari perjuangan? Tentu saja tidak. Sebab, di laci meja kerja saya, tersembunyi sebuah surat misterius yang baru saja tiba, mengisyaratkan bahwa tantangan yang lebih besar, dan jauh lebih personal, baru saja dimulai.
.png)
.png)
