JABARONLINE.COM - Pasar energi global tengah diguncang oleh ketidakpastian besar yang memicu lonjakan harga komoditas minyak mentah secara signifikan. Pada perdagangan Senin (2/3/2026) sore, grafik harga minyak dunia terpantau meroket tajam hingga menyentuh angka sekitar 8 persen. Fenomena ini terjadi sebagai respons spontan pelaku pasar terhadap eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar di wilayah Timur Tengah.
Gejolak harga ini merupakan buntut langsung dari terganggunya jalur distribusi energi di kawasan Selat Hormuz yang sangat strategis bagi dunia. Ketegangan bersenjata antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) telah menghambat kelancaran arus pengiriman minyak internasional. Para investor kini menaruh perhatian penuh pada stabilitas pasokan energi yang kian terancam akibat konfrontasi fisik di wilayah perairan tersebut.
Pemicu utama dari memanasnya situasi ini adalah serangan balasan yang dilancarkan oleh pihak militer Iran di wilayah perairan Selat Hormuz. Aksi militer tersebut dilakukan sebagai bentuk respons atas pengeboman yang dilakukan oleh pasukan Israel dan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Insiden berdarah tersebut dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu kemarahan besar di Teheran.
Para analis pasar energi memperingatkan bahwa penutupan atau gangguan di Selat Hormuz dapat melumpuhkan ekonomi global dalam waktu singkat. Kekhawatiran akan terhentinya aliran jutaan barel minyak setiap harinya membuat spekulasi harga terus merangkak naik tanpa kendali di pasar komoditas. Situasi di Jakarta dan pusat keuangan dunia lainnya mencerminkan kecemasan mendalam terhadap ketersediaan stok bahan bakar secara global.
Kenaikan harga minyak hingga level tertinggi ini diprediksi akan memberikan tekanan inflasi yang berat bagi banyak negara pengimpor energi. Gangguan pada pelayaran di Timur Tengah bukan sekadar masalah regional, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi internasional secara menyeluruh. Pemerintah di berbagai belahan dunia kini mulai bersiap menghadapi kemungkinan krisis energi yang berkepanjangan jika konflik tidak segera mereda.
Hingga saat ini, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih berada dalam kondisi yang sangat berisiko tinggi. Militer dari negara-negara yang bertikai dilaporkan masih bersiaga penuh di sekitar jalur perairan yang menjadi urat nadi energi dunia tersebut. Ketidakpastian politik di Iran pasca wafatnya Khamenei menambah kompleksitas situasi keamanan yang sedang berlangsung di kawasan strategis itu.
Dunia kini menanti langkah diplomasi internasional untuk mencegah pecahnya perang terbuka yang lebih luas di kawasan Teluk. Jika ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus berlanjut, harga minyak diprediksi akan tetap bertahan di level yang sangat tinggi. Stabilitas energi global saat ini sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan.
Sumber: Beritasatu
