JABARONLINE.COM - Dalam konstelasi spiritual Islam, doa bukanlah sekadar rangkaian kata yang dipanjatkan demi pemuasan syahwat material atau kebutuhan pragmatis semata. Lebih dari itu, doa merupakan sebuah manifestasi tertinggi dari pengakuan eksistensial seorang hamba yang menyadari kefanaan dirinya di hadapan kemahakuasaan Allah SWT. Secara ontologis, setiap untaian doa yang terucap menjadi jembatan metafisika yang menghubungkan dimensi bumi yang terbatas dengan dimensi langit yang tak berhingga, menciptakan sebuah dialektika suci antara makhluk dan Sang Pencipta.
Kesadaran akan kedekatan Allah SWT kepada hamba-Nya menjadi fondasi utama dalam membangun optimisme spiritual. Allah tidak hanya memerintahkan hamba-Nya untuk meminta, tetapi juga memberikan jaminan kepastian bahwa setiap permohonan akan didengar dan direspons dengan penuh kasih sayang. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya yang begitu menyentuh relung hati:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)
Salah satu momentum emas yang paling ditekankan oleh Rasulullah SAW adalah sepertiga malam terakhir. Pada saat sebagian besar manusia terlelap dalam buaian mimpi, alam semesta berada dalam kesunyian yang paling murni, memberikan ruang bagi hamba untuk melakukan dialog privat yang sangat intim dengan Rabb-nya. Di saat inilah, Allah SWT turun ke langit dunia dengan segala keagungan-Nya untuk menawarkan ampunan dan pengabulan doa bagi siapa saja yang bersimpuh di hadapan-Nya.
Pentingnya momentum ini ditegaskan dalam sebuah hadits shahih yang menggambarkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba yang mau meluangkan waktunya di keheningan malam:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Terjemahan: "Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: 'Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan; barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri; dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.'" (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)
Momentum Jumat ini bukan sekadar pergantian waktu kronologis, melainkan sebuah anugerah ilahiah yang disediakan bagi mereka yang memiliki kesabaran dan ketekunan dalam menanti rahmat-Nya. Rasulullah SAW memberikan isyarat mengenai waktu yang sangat berharga ini agar umatnya senantiasa waspada dan bersiap diri dalam zikir dan doa yang mendalam, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut:
فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا يُزَهِّدُهَا
Terjemahan: "Di dalam hari Jumat itu terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba muslim mendapatinya sedang ia berdiri melaksanakan shalat (berdoa) memohon kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta." Beliau (Rasulullah) memberikan isyarat dengan tangannya untuk menunjukkan betapa singkatnya waktu tersebut. (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852)
Sebagai kesimpulan, memahami dialektika antara hamba dan Pencipta melalui waktu-waktu mustajab adalah langkah krusial dalam meningkatkan kualitas dakwah dan kehidupan spiritual kita. Doa yang dipanjatkan pada waktu yang tepat, dengan adab yang benar, dan hati yang dipenuhi keyakinan, akan menjadi kekuatan dahsyat yang mampu mengubah takdir dengan izin Allah. Marilah kita jadikan waktu-waktu mulia ini sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan memohon kebaikan bagi umat manusia.
