Fenomena kelelahan mental atau burnout kini menjadi tantangan nyata bagi generasi muda Muslim di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Seringkali, pencapaian orang lain di media sosial memicu rasa cemas dan perasaan tertinggal yang sangat mendalam. Kondisi ini menuntut kita untuk sejenak berhenti dan merenungi kembali arah tujuan hidup yang sebenarnya agar tidak tersesat dalam ekspektasi manusia.
Banyak yang beranggapan bahwa solusi dari rasa penat hanyalah melalui liburan mewah atau sekadar memuaskan keinginan berbelanja. Padahal, kelelahan yang dirasakan sering kali bukan berasal dari fisik, melainkan jiwa yang kehilangan sandaran spiritual di tengah ambisi duniawi. Tanpa pondasi iman yang kuat, raga akan terus merasa haus meskipun telah berusaha memenuhi segala keinginan materi yang bersifat sementara.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan penawar terbaik bagi setiap hati yang sedang mengalami kegelisahan melalui firman-Nya yang sangat menyejukkan.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Terjemahan: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)
Imam Al-Ghazali dalam berbagai risalahnya sering menekankan pentingnya menjaga kesehatan hati dari penyakit cinta dunia yang berlebihan dan merusak. Beliau mengajarkan bahwa qana'ah atau merasa cukup adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis bagi seorang hamba yang beriman. Ketika kita mampu menerima setiap skenario Allah dengan lapang dada, maka tekanan hidup tidak akan lagi menjadi beban yang menyesakkan dada.
Implementasi nyata dari konsep penyembuhan islami dapat dimulai dengan memperbaiki kualitas salat dan meluangkan waktu khusus untuk bermunajat. Mengurangi durasi penggunaan media sosial juga sangat membantu agar kita tidak terjebak dalam lingkaran perbandingan sosial yang tidak sehat setiap harinya. Fokuslah pada pengembangan potensi diri dan kontribusi positif bagi sesama sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya.
Akhirnya, mari kita pahami bahwa berserah diri bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan meletakkan harapan sepenuhnya kepada skenario terbaik Allah. Burnout merupakan sebuah sinyal agar kita kembali mendekat kepada Sang Pencipta dan memperbaiki niat dalam setiap aktivitas keseharian. Semoga setiap langkah yang kita tempuh senantiasa diberkahi dan dipenuhi dengan ketenangan jiwa yang hakiki serta abadi.
Sumber: Muslimchannel
