Ilmu akidah merupakan pilar terpenting dalam membangun pemahaman agama yang kokoh bagi setiap individu Muslim di masa modern ini. Mengenal Allah Swt atau Ma’rifatullah bukan sekadar wawasan intelektual biasa, melainkan sebuah kewajiban utama yang bersifat fardhu ain. Dengan landasan iman yang kuat, seorang mukmin akan memiliki arah hidup yang jelas sesuai dengan tuntunan syariat yang lurus.
Para ulama dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah telah menyusun sistematika berpikir yang sangat rapi untuk memahami sifat-sifat Allah secara mendalam. Langkah ini diambil demi menjaga kemurnian tauhid agar umat terhindar dari pemahaman keliru yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Melalui pendekatan yang terstruktur ini, kita dapat mengenal keagungan Sang Pencipta dengan cara yang lebih komprehensif dan sistematis.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Ash-Shura: 11)
Tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah membagi sifat-sifat tersebut ke dalam empat kategori besar yakni Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Klasifikasi ini disusun secara epistemologis untuk memberikan gambaran utuh mengenai eksistensi dan kekuasaan Allah yang mutlak atas alam semesta. Setiap kategori memiliki peran penting dalam membentengi akidah dari paham yang mencoba meniadakan sifat-sifat Tuhan atau melakukan penyerupaan.
Memahami sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari akan membuahkan rasa cinta dan takut yang seimbang di dalam hati seorang hamba. Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan mendorong seseorang untuk senantiasa berperilaku jujur dan berbuat ihsan. Keyakinan yang mendalam ini menjadi energi positif dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan penuh kesabaran serta ketawakalan yang tinggi.
Mempelajari teologi Islam bukan sekadar rutinitas akademis, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Dengan memahami sifat wajib Allah secara benar, kita dapat membangun fondasi iman yang tangguh dan tidak mudah goyah oleh arus zaman. Mari terus memperdalam ilmu tauhid sebagai bekal utama demi meraih kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akhirat kelak.
Sumber: Muslimchannel
