JABARONLINE.COM - Di era disrupsi digital saat ini, manusia modern sering kali terjebak dalam pusaran arus informasi yang tak terbendung, yang memicu fenomena *Fear of Missing Out* atau FOMO. Kegelisahan ini muncul saat kita terus-menerus membandingkan kehidupan nyata kita dengan potret semu yang ditampilkan orang lain di media sosial. Tanpa disadari, ambisi untuk selalu relevan dan setara dengan standar duniawi tersebut justru mengikis ketenangan batin dan menjerumuskan jiwa ke dalam kondisi *burnout* yang melelahkan.

Islam sebagai agama yang komprehensif telah memberikan peringatan jauh sebelum teknologi ini ada, agar manusia tidak terpedaya oleh gemerlap perhiasan dunia yang sering kali menipu pandangan mata. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan hamba-Nya agar tidak terpaku pada nikmat yang diberikan kepada orang lain, karena hal itu hanyalah ujian sementara. Fokus yang berlebihan pada kehidupan orang lain hanya akan melahirkan hasad dan rasa tidak puas yang berkepanjangan terhadap takdir-Nya.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Terjemahan: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaha: 131)

Untuk mengobati penyakit hati akibat FOMO, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah resep psikologis yang sangat ampuh. Beliau mengajarkan kita untuk mengubah sudut pandang dalam urusan duniawi, yaitu dengan melihat mereka yang berada di bawah kita agar kita tidak meremehkan nikmat Allah. Dengan mempraktikkan hal ini, hati akan lebih mudah tersentuh oleh rasa syukur dan terhindar dari rasa iri yang merusak kesehatan mental.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Terjemahan: "Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, maka hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian." (HR. Muslim No. 2963)

Ketika seseorang mulai menyibukkan dirinya dengan mengingat Allah, maka segala bentuk kecemasan akan masa depan dan penyesalan atas masa lalu akan perlahan sirna. Allah telah menjanjikan ketenangan bagi mereka yang beriman dan senantiasa membasahi lisan mereka dengan dzikrullah. Inilah benteng pertahanan utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi gempuran standar hidup yang dipaksakan oleh media sosial dan lingkungan sekitar.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Terjemahan: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Terjemahan: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"." (QS. Ibrahim: 7)