JABARONLINE.COM - Menteri Pertahanan Mali, Sadio Camara, dilaporkan meninggal dunia setelah kediamannya di dekat ibu kota Bamako diserang menggunakan truk berisi bahan peledak. Peristiwa ini terjadi di tengah serangkaian serangan terkoordinasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok militan jihadis dan separatis di berbagai wilayah Mali.
Kematian Camara kemudian dikonfirmasi oleh televisi negara beberapa jam setelah kejadian, yang menyatakan bahwa menteri tersebut meninggal karena luka yang dideritanya saat terlibat baku tembak dengan para penyerang. Dilansir dari BBC Africa dan Reuters, Camara sempat terlibat kontak senjata dengan para teroris sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit.
Menyusul insiden tersebut, dilaporkan bahwa pemimpin junta militer Mali, Jenderal Assimi Goita, telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman setelah kediamannya juga menjadi sasaran serangan. Serangan ini disebut sebagai salah satu serangan jihadis terkoordinasi terbesar yang melanda Mali dalam beberapa tahun terakhir.
Lebih jauh ke utara, kelompok separatis Front Pembebasan Azawad (FLA) mengklaim bahwa tentara bayaran Rusia yang disewa oleh junta militer Mali telah menyetujui penarikan diri mereka dari Kidal setelah dua hari pertempuran sengit. Klaim ini muncul seiring dengan meningkatnya ketegangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun akibat pemberontakan kelompok afiliasi Al-Qaeda dan ISIS, serta kelompok FLA.
Menurut keluarga Camara dan media Prancis, serangan yang dilancarkan oleh militan yang berafiliasi dengan Al-Qaeda di Kati pada Sabtu lalu tersebut juga merenggut nyawa setidaknya tiga anggota keluarga Camara. Juru bicara pemerintah, Issa Ousmane Coulibaly, mengonfirmasi hal ini pada Minggu malam.
"Sebuah kendaraan yang sarat dengan bahan peledak dan dikendarai oleh penyerang bunuh diri menargetkan kediaman menteri," ujar Juru Bicara Pemerintah Issa Ousmane Coulibaly, "Dia berhasil membalas tembakan dan berhasil menetralisir beberapa di antara mereka, namun beliau terluka dan kemudian meninggal karena luka-lukanya di rumah sakit," tambahnya.
Serangan bom bunuh diri itu juga menyebabkan runtuhnya sebagian kediaman Camara dan merusak sebuah masjid terdekat, di mana beberapa jemaah dilaporkan juga menjadi korban jiwa. Sementara itu, pertempuran pada hari Sabtu juga dilaporkan terjadi di kota-kota strategis seperti Kati, Gao, Kidal di utara, serta kota-kota di wilayah tengah seperti Sevare dan Mopti.
Ulf Laessing, kepala program Sahel di Yayasan Konrad Adenauer di Mali, memberikan pandangan mengenai skala kejadian ini. "Insiden ini tampak seperti serangan jihadis terkoordinasi terbesar di Mali selama bertahun-tahun," ujar Ulf Laessing kepada BBC.
Sementara itu, juru bicara FLA, Mohamed Elmaouloud Ramadane, sempat menyatakan bahwa Kidal belum sepenuhnya jatuh saat serangan itu terjadi, karena "elemen tentara Mali dan tentara bayaran Rusia" masih berada di kota tersebut. Namun, pada hari Minggu, Ramadane mengumumkan tercapainya kesepakatan penarikan diri.
