Aku selalu membayangkan kedewasaan adalah gerbang yang kulewati setelah meraih gelar sarjana, setelah semua teori dan idealisme seni kupelajari. Aku adalah seorang pemimpi yang terbuai oleh aroma cat minyak dan janji-janji masa depan yang cerah, jauh dari hiruk pikuk tanggung jawab. Dunia terasa begitu lunak dan mudah dibentuk, seperti plastisin di tanganku.
Namun, kenyataan datang dalam bentuk telepon singkat yang dingin, mengabarkan bahwa sanggar batik milik Nenek di ambang kehancuran. Bukan hanya soal bisnis, tetapi warisan yang telah menghidupi tiga generasi kini terancam dililit utang yang mencekik. Seketika, kanvasku yang indah berubah menjadi selembar kain putih yang harus kucelupkan dalam warna-warna yang tidak pernah kupilih.
Aku memutuskan pulang, meninggalkan kuliah di kota besar, dan mengganti kuas dengan hitungan buku kas yang rumit. Aroma lilin malam dan pewarna sintetis yang dulu kurindukan kini terasa menyesakkan, membawa beban kekecewaan dan ketakutan. Aku harus berhadapan langsung dengan angka-angka merah, tuntutan pemasok yang mendesak, dan tatapan mata para pekerja yang menggantungkan hidup padaku.
Malam-malamku dihabiskan di depan laptop yang berdebu, mencoba memahami struktur pasar yang kejam, jauh berbeda dari pasar seni yang kukenal. Ada saat-saat aku menangis dalam diam, merindukan kebebasan dan kepastian masa lalu. Rasa malu karena gagal di usia muda terasa seperti besi panas yang mencap diriku.
Suatu sore, Pak Karta, pengrajin batik tertua di sanggar, mendatangiku. Ia tidak memberiku solusi keuangan, tetapi sebuah pelajaran tentang ketahanan. Ia bilang, "Nduk, kain terbaik itu tidak hanya diukur dari indahnya motif, tapi dari berapa kali ia dicelup dan direbus, diuji oleh panas dan dingin." Kata-kata itu menampar kesadaranku. Aku mulai mengubah pendekatan, tidak lagi hanya melihat bisnis ini sebagai kewajiban, tetapi sebagai medan pertempuran pribadi. Aku belajar bernegosiasi, merancang motif baru yang relevan, dan yang terpenting, belajar mendengarkan keluh kesah orang lain tanpa menghakimi.
Di tengah semua kekacauan dan kelelahan ini, aku menyadari bahwa inilah sesungguhnya kurikulum paling berharga. Ini adalah sekolah yang tidak menawarkan ijazah kertas, melainkan pembentukan karakter yang kokoh. Aku sedang membaca dan menulis bab paling penting dari Novel kehidupan-ku sendiri, bab yang penuh dengan air mata dan keringat.
Setelah berbulan-bulan perjuangan yang melelahkan, kami berhasil mencapai titik impas. Sanggar itu memang belum kaya, tetapi napasnya sudah kembali teratur. Aku tidak lagi melihat diriku sebagai Risa si seniman idealis, melainkan Risa, sang penanggung jawab yang tangguh.
Kedewasaan ternyata bukanlah pencapaian di ujung jalan yang mulus, melainkan hasil dari setiap luka yang berhasil disembuhkan dan setiap tanggung jawab yang berhasil dipikul. Kini aku tahu, bahkan ketika badai telah berlalu, bekas-bekas luka itu akan selamanya menjadi peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah berlayar.
.png)
.png)
