Mata Tunggal, Logos Kekuasaan, dan Tentara Tanpa Wajah: Membaca Naruto dalam Irisan Mitologi Akhir Zaman**


Budaya populer sering menjadi ruang tak langsung untuk membicarakan kegelisahan besar manusia. Naruto—yang kerap dipahami sebagai kisah ninja dan persahabatan—sejatinya memuat simbol-simbol yang beresonansi dengan mitologi global, termasuk mitologi Islam tentang akhir zaman. Irisan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan tokoh fiksi dengan figur teologis, melainkan membaca Naruto sebagai mitologi modern yang memvisualisasikan kecemasan etis dan spiritual manusia kontemporer.

Tiga simbol utama layak dibaca secara reflektif: mata tunggal, logos kekuasaan Hagoromo, dan tentara tanpa wajah.

Mata Tunggal dan Fitnah Persepsi

Dalam tradisi Islam, Dajjal dikenal dengan simbol mata satu (a‘war), yang oleh banyak penafsir dipahami sebagai metafora pandangan parsial yang mengklaim kebenaran absolut. Fitnah Dajjal bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan ilusi persepsi: yang salah tampak benar, yang palsu terasa nyata.

Dalam Naruto, mata bukan hanya alat melihat, melainkan sumber kekuasaan. Sharingan, Mangekyō, hingga Rinnegan berfungsi sebagai pusat ilusi, manipulasi realitas, dan dominasi. Menariknya, tokoh-tokoh dengan kekuatan mata tertinggi justru kerap terjebak pada krisis moral—mereka “melihat segalanya”, tetapi kehilangan empati.

Secara simbolik, Naruto menyampaikan satu peringatan penting:
pengetahuan yang berdiri sendiri, tanpa kebijaksanaan, melahirkan ilusi kebenaran.
Mata tunggal menjadi metafora manusia modern yang melihat dunia dari satu sudut—ideologi, teknologi, atau ego—lalu memaksakannya sebagai hukum universal.

Hagoromo dan Logos Kekuasaan