Mengenal Allah Swt atau Ma'rifatullah merupakan langkah awal yang paling krusial bagi setiap muslim dalam menjalankan syariat Islam. Ilmu tauhid berdiri sebagai fondasi utama yang memperkokoh bangunan iman agar tidak mudah goyah oleh tantangan zaman. Para ulama menekankan bahwa pemahaman yang benar tentang Sang Pencipta adalah kunci utama untuk meraih kesempurnaan ibadah.

Ulama mutakallimin dari mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah telah menyusun sistematisasi akidah melalui dua puluh sifat wajib bagi Allah. Rumusan ini mencakup kategori sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, hingga Ma’nawiyah yang menggambarkan kesempurnaan mutlak Tuhan semesta alam. Setiap sifat tersebut bukan sekadar untuk dihafalkan, melainkan harus diresapi sebagai bentuk pengagungan terhadap kebesaran-Nya.

Kebutuhan manusia untuk mengenal Tuhannya telah ditegaskan dalam Al-Quran agar mereka senantiasa bertauhid dengan benar. Allah Swt berfirman mengenai keesaan dan kekuasaan-Nya yang tidak menyerupai apa pun di dunia ini.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Dalam tradisi intelektual Islam, para ulama menjelaskan bahwa sifat *Wujud* adalah sifat *Nafsiyah* yang menjadi identitas utama eksistensi Allah. Keberadaan alam semesta yang terus berubah ini menjadi bukti logis yang tak terbantahkan akan adanya Sang Pencipta yang bersifat *Wajibul Wujud*. Keyakinan ini memastikan bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tidak akan pernah berakhir, melampaui segala batasan ruang serta waktu.

Menginternalisasi sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan sikap *muraqabah* atau merasa selalu diawasi oleh Sang Khalik. Kesadaran bahwa Allah Maha Mendengar (*Sama'*) dan Maha Melihat (*Bashar*) mendorong seorang mukmin untuk senantiasa memperbaiki akhlaknya. Dengan demikian, tauhid tidak hanya berhenti pada teori di dalam kitab, tetapi bertransformasi menjadi energi positif dalam setiap tindakan nyata.

Memahami dua puluh sifat wajib Allah adalah perjalanan spiritual untuk memperdalam rasa cinta dan takwa kepada-Nya. Ilmu ini membimbing akal dan hati untuk mengakui kelemahan diri di hadapan keagungan Tuhan yang Maha Kuasa. Mari kita jadikan Ma'rifatullah sebagai lentera hidup agar senantiasa istikamah di jalan yang diridhai oleh Allah Swt.

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/kajian-ontologis-dan-epistemologis-sifat-wajib-bagi-allah-pendekatan-teologi-ahlussunnah-wal-jamaah