Aku selalu membayangkan masa depanku seperti lukisan cat air yang indah; penuh warna lembut dan tanpa garis tegas yang menyakitkan. Saat itu, aku adalah Risa yang hanya tahu cara bermimpi, bukan cara bertahan hidup. Segalanya terasa ringan, seolah tak ada beban yang sanggup menimpaku.
Namun, semesta punya skenario yang jauh lebih dramatis. Keputusan untuk meninggalkan kampus impianku demi menopang warung kopi keluarga yang nyaris bangkrut terasa seperti tamparan keras di wajah. Mimpi-mimpi itu kini teronggok beku di sudut kamar, digantikan oleh aroma pahit kopi dan tumpukan laporan keuangan yang rumit.
Malam-malam awal terasa seperti neraka yang dingin. Aku menangis dalam diam di balik meja kasir, meratapi kebebasan yang direnggut paksa. Rasa marah dan penyesalan berputar menjadi pusaran energi negatif yang hampir menenggelamkanku.
Suatu pagi yang basah, aku melihat Ayah membersihkan etalase dengan punggung yang membungkuk, namun matanya memancarkan ketenangan yang aneh. Saat itulah aku sadar, ini bukan tentang kegagalan, tapi tentang warisan dan tanggung jawab yang harus dipertahankan. Kedewasaan bukanlah usia, melainkan kesediaan untuk berdiri tegak saat badai datang.
Aku mulai belajar menghitung margin, meracik resep baru, dan berinteraksi dengan pelanggan yang rewel, mengubah setiap keluhan menjadi data. Setiap cangkir kopi yang kuseduh adalah pelajaran berharga tentang ketelitian dan kesabaran yang harus kukendalikan. Tangan yang dulu hanya terampil memegang pena, kini cekatan memutar mesin espresso tua.
Perlahan, aku mulai menikmati peran baruku yang menuntut. Aku menyadari bahwa setiap kesulitan yang kualami adalah lembaran tak terduga dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Babak ini mungkin tidak indah seperti yang kubayangkan, tapi penuh dengan karakterisasi yang kuat dan plot yang mendalam.
Warung kopi itu akhirnya stabil, bahkan mulai ramai lagi dengan sentuhan inovasi yang kubawa. Bukan hanya bisnis yang tumbuh, tapi juga diriku, yang kini lebih menghargai proses daripada hasil instan. Aku menemukan kekuatan yang tak kusangka ada di dalam diriku.
Kedewasaan memang mahal harganya, seringkali dibayar tunai dengan air mata dan pengorbanan yang tak terlihat. Tetapi ketika aku menatap bayanganku di jendela warung, aku melihat sosok yang jauh lebih tangguh, yang siap menghadapi babak apa pun yang akan disajikan kehidupan selanjutnya.
.png)
.png)
