JABARONLINE.COM - Di era digital yang serba cepat ini, layar gawai sering kali menjadi jendela yang memicu gejolak batin. Fenomena *Fear of Missing Out* (FOMO) atau ketakutan akan tertinggal dari pencapaian orang lain telah menjadi ujian berat bagi kesehatan mental dan spiritual umat modern. Kita sering kali terjebak dalam pusaran perbandingan yang tidak sehat, di mana kebahagiaan seolah-olah hanya milik mereka yang memamerkan kemewahan atau keberhasilan di media sosial. Padahal, apa yang tersaji di dunia maya hanyalah potongan kecil dari realitas kehidupan yang jauh lebih kompleks dan penuh rahasia.

Sebagai hamba yang beriman, kita harus menyadari bahwa setiap detak jantung dan setiap rezeki yang mengalir telah diatur dengan presisi oleh Sang Khaliq. Rasa gelisah saat melihat nikmat orang lain sering kali berakar dari kurangnya rasa syukur atas apa yang telah kita genggam. Allah SWT telah memberikan peringatan sekaligus janji yang sangat indah dalam kalam-Nya mengenai pentingnya bersyukur agar nikmat tersebut tidak dicabut, melainkan justru ditambah dengan keberkahan yang berlipat ganda.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'" (QS. Ibrahim: 7)

Kunci utama untuk memutus rantai FOMO adalah dengan mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Rasulullah SAW memberikan tuntunan praktis agar kita senantiasa merasa cukup dan terhindar dari penyakit hati. Beliau mengajarkan kita untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan duniawi, agar kita tidak meremehkan karunia Allah yang telah ada. Dengan demikian, hati akan menjadi lebih lapang dan fokus kita akan teralih dari rasa iri menjadi rasa syukur yang mendalam.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Terjemahan: "Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Muslim, No. 2963)

Ketenangan sejati tidak akan pernah ditemukan dalam validasi manusia atau jumlah "like" di media sosial. Kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati yang merasa cukup dengan pembagian dari Allah SWT. Dalam terminologi tasawuf, ini disebut sebagai *al-ghina an-nafs*. Ketika hati sudah merasa kaya dengan kehadiran Allah, maka kilauan dunia di tangan orang lain tidak akan lagi mampu menggoyahkan kedamaian batin kita.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Terjemahan: "Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati (merasa cukup)." (HR. Bukhari No. 6446 dan Muslim No. 1051)

Sebagai langkah konkret, mulailah membatasi konsumsi konten yang memicu rasa rendah diri dan perbanyaklah interaksi dengan Al-Quran serta majelis ilmu. Fokuslah pada pengembangan diri dan perbaikan amal ibadah yang akan menjadi bekal abadi di akhirat kelak. Ingatlah bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara, dan segala perhiasannya akan sirna, sementara ketenangan hati yang bersandar pada Allah akan membawa kita pada kebahagiaan yang kekal.

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Terjemahan: "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid: 23)