JABARONLINE.COM - Perdagangan pasar keuangan pada Selasa pagi, 10 Maret 2026, mencatatkan kabar baik bagi mata uang domestik. Nilai tukar rupiah berhasil menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi awal perdagangan hari itu.

Penguatan ini terjadi seiring dengan perubahan dinamika global yang lebih kondusif bagi mata uang negara berkembang. Salah satu faktor pendorong utama adalah adanya indikasi meredanya ketegangan geopolitik internasional.

Secara spesifik, pasar merespons positif harapan meredanya konflik yang terjadi dengan Iran. Sentimen positif ini secara umum turut memperbaiki persepsi risiko di kalangan investor global terhadap aset-aset di kawasan Asia.

Faktor teknis juga berperan penting dalam apresiasi rupiah pagi itu. Indeks dolar AS terpantau mengalami pelemahan yang cukup substansial selama periode waktu yang sama.

Berdasarkan data yang dihimpun dari pasar spot pada pukul 09.29 WIB, mata uang Garuda terapresiasi sebesar 61 poin. Hal ini setara dengan pergerakan positif sebesar 0,40% dari penutupan sebelumnya.

Posisi penutupan rupiah pada pagi hari itu berada di level Rp 16.882 per dolar AS. Angka ini menandakan keberhasilan rupiah menembus resistensi signifikan melawan mata uang utama dunia tersebut.

Pada saat yang bersamaan, pergerakan indeks dolar AS tercatat mengalami kontraksi. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia itu melemah 0,34% dan berada di level 98,83.

Situasi ini merefleksikan pergeseran aliran dana investor yang cenderung mencari aset berisiko seiring membaiknya pandangan terhadap stabilitas global, dilansir dari Beritasatu.com.

"Rupiah terapresiasi 61 poin atau 0,40% ke posisi Rp 16.882 per dolar AS," demikian data pergerakan yang tertera pada pukul 09.29 WIB di pasar spot, dilansir dari Beritasatu.com.