JABARONLINE. COM, – Di balik angka cadangan pangan yang terlihat menenangkan, tersimpan persoalan yang jarang dibicarakan: mutu beras yang perlahan menyusut di dalam gudang. Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, mengingatkan bahwa beras bukan sekadar komoditas mati yang bisa ditumpuk tanpa batas waktu.
“Empat bulan disimpan saja, warnanya mulai berubah dari putih menjadi agak kekuningan. Itu tanda kualitasnya turun. Semakin lama, kandungan gizinya makin berkurang,” ujarnya, Rabu kemarin.
Pernyataan itu menjadi pengingat keras bahwa ketahanan pangan tak cukup diukur dari besarnya angka stok. Beras adalah bahan pangan yang memiliki masa kebugaran. Jika proses pengeringan di hulu tidak optimal, atau penyimpanan di gudang tak memenuhi standar, penurunan mutu terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan.
Estimasi Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) tahun 2025 menyebut stok beras nasional berpotensi mencapai 8 juta ton, didorong surplus panen dua tahun terakhir.
Secara kuantitas, ini kabar baik. Namun Edi menegaskan, angka besar bisa menjadi bumerang jika kualitas awal tidak dijaga. Gabah dengan kadar air tinggi yang langsung digiling tanpa pengeringan memadai akan mempercepat kerusakan.
Mayoritas masyarakat Indonesia—sekitar 60 persen—mengonsumsi beras medium, sementara 40 persen memilih premium. Stabilitas mutu beras medium, dengan demikian, menjadi fondasi gizi jutaan keluarga.
“Kalau disimpan terlalu lama, apalagi lebih dari dua tahun, manfaatnya tidak lagi optimal. Kita harus jujur melihat ini,” katanya.
