JABARONLINE.COM - Fenomena keberagaman pendapat dalam ruang publik kita saat ini sering kali berujung pada polarisasi yang tajam dan memprihatinkan. Alih-alih menjadi sarana pengayaan intelektual, perbedaan sudut pandang justru kerap dijadikan pemantik api permusuhan yang membakar tali silaturahmi. Sebagai umat yang dibekali dengan tuntunan wahyu, sudah sepatutnya kita merenungkan kembali apakah cara kita beradu argumen masih berpijak pada nilai-nilai Islam atau sekadar pemuasan ego yang dibungkus dengan narasi kebenaran. Islam tidak pernah melarang perbedaan, namun Islam sangat melarang perpecahan yang lahir dari ketiadaan adab.

Sejatinya, perbedaan adalah keniscayaan dalam *sunnatullah* yang bertujuan agar manusia saling mengenal dan melengkapi. Dalam konteks pemikiran, keragaman ide merupakan rahmat jika dikelola dengan hati yang lapang. Allah SWT telah menegaskan bahwa keberagaman manusia, baik dari segi bangsa, suku, maupun pemikiran, adalah instrumen untuk mencapai ketakwaan melalui proses saling mengenal. Hal ini tertuang jelas dalam firman-Nya yang menjadi fondasi utama dalam memandang keberagaman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Terjemahan: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13)

Dalam menyampaikan argumen atau melakukan dakwah, Islam mengajarkan metode yang sangat elegan, yakni dengan hikmah dan nasihat yang baik. Dialog bukanlah ajang untuk menjatuhkan lawan, melainkan sarana untuk mencari kebenaran bersama. Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa mengedepankan cara-cara yang penuh kelembutan, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahan: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

Analisis mendalam terhadap kondisi umat saat ini menunjukkan bahwa krisis yang kita hadapi bukanlah krisis perbedaan pendapat, melainkan krisis akhlak dalam berbeda pendapat. Ketika kita mulai memandang rendah kelompok lain, mengejek, atau memberikan label-label negatif, saat itulah kita sedang meruntuhkan bangunan ukhuwah yang telah diperintahkan untuk dijaga. Allah SWT secara tegas melarang perbuatan saling merendahkan antar sesama mukmin:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman." (QS. Al-Hujurat: 11)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Terjemahan: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara." (QS. Ali 'Imran: 103)