JABARONLINE.COM - Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, telah mengeluarkan peringatan tegas kepada seluruh personel militer Israel Defense Forces (IDF) mengenai dugaan praktik penjarahan properti milik warga sipil di Lebanon selatan. Peringatan keras ini dikeluarkan pada Selasa (28/4/2026) menyusul munculnya berbagai bukti pelanggaran di medan tempur.
Tindakan tegas ini dipicu oleh laporan media, termasuk surat kabar ternama Haaretz, yang menyoroti adanya aksi pengambilan aset milik warga sipil Lebanon secara tidak sah oleh pasukan yang bertugas di lapangan. Hal ini juga dikuatkan oleh rekaman video yang menyebar luas di platform media sosial.
Dilansir dari Detikcom, rekaman yang beredar tersebut tidak hanya menunjukkan dugaan penjarahan, tetapi juga aksi pengrusakan fasilitas sipil, bahkan merusak simbol keagamaan tertentu. Kejadian ini menimbulkan reaksi keras dari pimpinan militer Israel.
Eyal Zamir menegaskan bahwa tindakan semacam itu sangat merusak reputasi institusi militer secara keseluruhan. "Fenomena penjarahan, jika memang ada, sangat memalukan dan berisiko mencoreng nama IDF secara keseluruhan. Jika insiden seperti itu terjadi, kami akan menyelidikinya," ujar Letnan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Angkatan Darat Israel.
Pernyataan Zamir merupakan respons langsung terhadap video viral yang memperlihatkan tentara Israel sedang bercanda sambil merusak barang-barang di dalam rumah warga. Selain itu, terdokumentasi pula penggunaan alat berat seperti palu godam untuk menghancurkan sebuah patung di area operasi militer tersebut.
Zamir juga memberikan penekanan khusus mengenai etika penggunaan media sosial oleh prajurit aktif maupun cadangan IDF. "Wajib militer dan cadangan IDF tidak boleh menggunakan jejaring sosial sebagai alat untuk menyebarkan pesan kontroversial dan untuk promosi diri. Ini adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar," tegas Zamir dalam peringatannya.
Jenderal bintang tiga tersebut menekankan bahwa jika perilaku menyimpang ini dibiarkan menjadi hal yang lumrah, hal tersebut justru dapat mengancam keamanan operasional militer di lapangan. Pihak militer telah mengambil langkah awal dengan memberikan sanksi penahanan selama 30 hari kepada dua prajurit yang terbukti merusak patung Yesus di Lebanon.
Militer Israel juga telah memberikan pernyataan resmi kepada kantor berita AFP mengenai komitmen mereka dalam menjaga integritas personel di zona konflik. Markas besar militer Israel menyatakan tidak akan mentolerir segala bentuk pelanggaran hukum terkait properti milik non-kombatan selama misi berlangsung.
"segala kerusakan terhadap properti sipil, serta tindakan penjarahan, dengan sangat serius dan melarang keras perilaku tersebut" sebut militer Israel dalam keterangan resminya.
