Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah hadiah yang datang seiring bertambahnya usia, sebuah proses otomatis yang akan kuterima tanpa usaha. Hidupku adalah sebuah kanvas yang rapi, terjaga dari percikan lumpur dan kerikil tajam, hingga suatu pagi, kenyamanan itu runtuh tak bersisa. Ayah, jangkar terkuat di keluargaku, tiba-tiba ambruk, dan bersamaan dengannya, rahasia finansial keluarga yang selama ini tertutup rapat ikut tersingkap.
Semua terjadi begitu cepat, seperti skenario film yang terlalu dramatis untuk dipercaya. Tumpukan surat tagihan, panggilan telepon dari bank yang menuntut penjelasan, dan tatapan mata Ibu yang dipenuhi kekosongan menjadi pemandangan sehari-hari yang mencekik. Aku, yang selama ini hanya mengurus buku kuliah dan rencana liburan, kini harus berhadapan dengan angka-angka merah dan keputusan sulit yang menentukan nasib kami.
Beban tanggung jawab itu terasa seperti batu meteor yang mendarat tepat di bahuku yang rapuh. Rasa takut yang menggelayut perlahan berubah menjadi kemarahan; mengapa aku harus melalui semua ini? Aku merindukan masa-masa ketika masalah terbesarku hanyalah memilih pakaian untuk pesta, bukan memilih aset mana yang harus dijual demi melunasi utang.
Ada malam-malam di mana aku hanya bisa menangis di sudut kamar, merapal doa agar semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir saat fajar tiba. Keputusasaan adalah kawan karib, membisikkan janji manis untuk menyerah, untuk kembali menjadi Risa yang manja dan tidak peduli, yang tak perlu menanggung beban dunia.
Namun, di tengah titik terendah itu, aku menemukan sebuah kekuatan yang tidak pernah kukira ada. Aku menyadari bahwa setiap kesulitan yang menderaku adalah babak penting dalam proses penulisan. Inilah drama yang harus kuperankan, inilah Novel kehidupan yang harus kutamatkan dengan kepala tegak, bukan dengan air mata.
Aku mulai belajar akuntansi dari nol, bernegosiasi dengan orang-orang yang wajahnya tampak keras, dan bekerja hingga larut malam di warung kopi kecil untuk mengumpulkan modal. Setiap penolakan, setiap kegagalan kecil, tidak lagi terasa seperti akhir dunia, melainkan hanya anak tangga yang licin menuju puncak pemahaman diri.
Secara perlahan, aku mulai berdiri tegak, tidak lagi sebagai anak perempuan yang dilindungi, melainkan sebagai seorang pejuang yang terluka namun tangguh. Aku belajar bahwa rasa hormat tidak didapatkan dari harta yang diwariskan, melainkan dari konsistensi dan integritas saat menghadapi krisis.
Jika Risa yang dulu melihat Risa yang sekarang, mungkin ia akan terkejut dan sedikit takut. Tapi aku bersyukur. Badai itu memang menghancurkan banyak hal, namun ia juga membersihkan pandanganku, membuatku melihat esensi sejati dari keberadaan.
Kedewasaan yang sesungguhnya bukanlah tentang usia, melainkan tentang seberapa banyak kita berani terluka dan seberapa cepat kita bangkit setelah jatuh. Kini, saat aku menatap matahari terbit, aku tahu, babak ini belum usai, dan petualangan apa lagi yang menanti di lembaran selanjutnya?
.png)
.png)
