Aku selalu percaya bahwa hidup adalah rangkaian musim semi yang tak berkesudahan, penuh tawa dan janji-janji yang mudah digapai. Dunia terasa seperti kanvas cerah yang siap dilukis, tanpa menyadari bahwa di balik cakrawala, badai sesungguhnya sedang menunggu untuk menerjang. Aku hidup dalam gelembung kebahagiaan, naif terhadap kompleksitas yang sesungguhnya.
Pukulan itu datang tanpa peringatan, seolah tangan tak terlihat merobek tirai yang selama ini melindungiku. Sebuah krisis keluarga yang tak terduga memaksa impian kuliahku terhenti mendadak, digantikan oleh tanggung jawab yang terasa terlalu berat untuk pundak yang baru saja lepas dari masa remaja. Seketika, aku harus menjadi tiang penyangga, padahal aku sendiri belum selesai membangun fondasiku.
Malam-malam panjang dihabiskan bukan untuk membaca buku atau bercanda dengan teman, melainkan untuk menghitung receh dan mencari pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang. Aku beralih dari pemimpi menjadi pekerja keras, merasakan sakitnya otot yang lelah dan dinginnya penolakan berkali-kali.
Setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah mengajarkan lebih banyak hal daripada seluruh buku yang pernah aku baca. Aku belajar bahwa martabat tidak terletak pada seberapa tinggi jabatanmu, tetapi pada seberapa jujur dan gigih kamu berjuang demi orang yang kamu cintai. Itu adalah sekolah kehidupan yang paling brutal dan paling jujur.
Aku mulai menyadari bahwa apa yang kualami ini adalah bagian dari kurikulum besar yang disebut Novel kehidupan. Bab-bab yang paling menyakitkan ternyata adalah yang paling penting, yang membentuk alur cerita dan karakterku seutuhnya. Kehilangan dan kesulitan bukanlah akhir, melainkan titik balik.
Melihat kembali diriku yang dulu, aku merasa iba pada kepolosan yang telah hilang, namun aku juga bersyukur atas kekuatan yang menggantikannya. Kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang kemampuan untuk berdiri tegak setelah terjatuh, sambil tetap memegang erat empati di hati.
Rasa sakit itu tidak hilang, ia hanya bertransformasi menjadi bekas luka yang indah—pengingat permanen bahwa aku mampu bertahan. Bekas luka ini adalah peta yang menunjukkan semua jalan berliku yang telah kutempuh untuk sampai pada titik ini, titik di mana aku akhirnya mengerti arti kata ‘bertanggung jawab’.
Meskipun badai telah berlalu dan aku perlahan kembali membangun impianku, aku tahu perjalananku belum usai. Aku kini berjalan dengan langkah yang lebih pasti, namun dengan hati yang lebih lembut. Jika besok kehidupan kembali menguji, apakah aku akan mampu menghadapinya dengan senyum yang sama, ataukah aku akan kembali goyah?
.png)
.png)
