Sebelum badai datang, hidupku adalah kanvas penuh warna. Aku adalah Arka, seorang mahasiswa seni yang yakin bahwa dunia berputar di sekitar palet warna dan garis-garis sketsa; aku hidup dalam idealisme yang murni, jauh dari hiruk pikuk tanggung jawab dunia nyata. Semua rencanaku tertata rapi, termasuk pameran tunggal yang sudah kurancang matang untuk tahun kelulusan.
Namun, takdir punya cara sendiri untuk merobek peta kehidupan yang sudah kubuat. Kabar buruk itu datang beruntun: Ayah jatuh sakit parah, dan usaha percetakan keluarga—satu-satunya sumber penghasilan kami—ternyata menanggung utang yang menggunung. Dalam sekejap, kuas di tanganku terasa ringan dan tak berarti dibandingkan beban yang tiba-tiba menimpa pundak.
Aku ingat jelas malam-malam awal itu; penuh amarah dan penolakan. Aku merasa dicurangi oleh semesta, dipaksa meninggalkan impian yang sudah kucintai sejak kecil demi tumpukan laporan keuangan yang tak kumengerti. Kebebasan yang selama ini kunikmati seolah ditarik paksa, digantikan oleh rasa takut yang mencekik tentang bagaimana menghidupi ibu dan membiayai pengobatan ayah.
Titik balik itu terjadi saat Ibu menggenggam tanganku, matanya menunjukkan kelelahan yang luar biasa, namun tersirat harapan. Saat itulah aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah soal usia yang tertera di kartu identitas, melainkan kesiapan untuk berdiri tegak ketika semua orang yang kucintai mulai limbung. Aku harus mengganti kuas dengan kalkulator dan jas lusuh yang biasa Ayah pakai.
Masa-masa itu adalah sekolah paling keras yang pernah kumasuki. Aku harus bernegosiasi dengan kreditor, belajar tentang margin keuntungan, dan yang paling menyakitkan, menjual beberapa karya seni terbaikku untuk modal awal. Setiap transaksi yang kulakukan terasa seperti mengkhianati jiwa seniku, tetapi setiap lembar tagihan yang berhasil kubayar memberikan sensasi kemenangan yang jauh lebih nyata daripada pujian dari dosen.
Perlahan, aku mulai menemukan ritme baru. Aku belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan data yang harus dianalisis untuk strategi berikutnya. Aku menyadari bahwa kisah hidupku ini adalah sebuah Novel kehidupan yang bab-babnya tidak bisa diatur oleh penulisnya; ia harus dijalani, bahkan ketika alurnya terasa menyakitkan dan tak terduga.
Aku mulai menghargai kesabaran, sebuah sifat yang sebelumnya tak pernah kumiliki. Kedewasaan memaksaku untuk berpikir jangka panjang, memadamkan api emosi yang sering membakar semangatku. Setiap keputusan kecil yang kuambil kini memiliki bobot, memengaruhi nasib orang-orang yang bergantung padaku.
Setelah hampir dua tahun, usaha itu mulai stabil. Utang perlahan terbayar, dan Ayah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Aku memang tidak lagi melukis setiap hari, tetapi mataku kini melihat dunia dengan kedalaman yang berbeda—bukan lagi idealis yang naif, melainkan seorang perancang strategi yang memahami kompleksitas hidup.
Aku mungkin kehilangan waktu terbaikku sebagai seniman muda, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: fondasi diri yang kokoh. Jika suatu hari nanti aku kembali memegang kuas, aku tahu, lukisanku tidak hanya akan indah secara visual, tetapi juga mengandung lapisan makna dan perjuangan yang pahit. Lalu, apakah kedewasaan ini berarti aku sudah mencapai akhir bahagia? Atau justru baru permulaan dari tantangan yang lebih besar, menanti di balik pintu yang baru saja kubuka?
.png)
.png)
