Aku selalu mengira kedewasaan adalah tentang mencapai puncak, tentang mendapatkan pengakuan dari semua mata yang memandang. Saat itu, aku berusia awal dua puluhan, memegang sketsa proyek terbesar yang pernah kurancang, yakin bahwa dunia ada di bawah kakiku. Namun, pengumuman dewan juri menghantamku seperti bongkahan es, meruntuhkan menara kesombongan yang kubangun sendiri.
Rasa malu itu begitu tebal, membuatku enggan menatap cermin atau menjawab panggilan telepon. Jakarta terasa terlalu ramai, terlalu menghakimi. Aku butuh tempat sunyi untuk memunguti pecahan diriku yang berserakan, untuk merenungkan mengapa ide yang kuanggap brilian justru ditolak mentah-mentah.
Keputusan untuk menerima tawaran renovasi sekolah di pelosok Jawa Barat terasa seperti pelarian yang drastis, jauh dari gemerlap kota yang menjanjikan ketenaran. Tidak ada gedung pencakar langit atau pujian media di sini, hanya lumpur, kayu lapuk, dan tatapan polos anak-anak yang haus ilmu.
Di sana, gelar arsitekku tidak berarti apa-apa saat berhadapan dengan cuaca yang tak terduga atau kurangnya pasokan material. Aku belajar bahwa teori di kampus berbeda jauh dengan realitas membangun di atas tanah yang hidup. Pak Tua Karta, kepala tukang di sana, mengajariku lebih banyak tentang fondasi kehidupan daripada semua dosenku.
Perlahan, aku mulai memahami bahwa kegagalan di masa lalu bukanlah akhir, melainkan babak baru yang harus kulalui dengan kerendahan hati. Ini adalah *Novel kehidupan*-ku, sebuah naskah yang tak bisa diprediksi, di mana setiap kesulitan dan keringat adalah alur cerita yang membentuk karakterku.
Senyum tulus seorang anak yang akhirnya bisa belajar di ruangan yang kering dan aman, jauh lebih berharga daripada tepuk tangan juri di kota. Kedewasaan ternyata bukan tentang seberapa tinggi aku bisa membangun, tetapi seberapa kuat aku bisa menopang mereka yang membutuhkan.
Tanganku yang dulu hanya memegang pensil sketsa halus, kini kasar karena memegang sekop dan mengaduk adonan semen. Aku kehilangan kecepatan dalam meraih target duniawi, tetapi mendapatkan ketenangan batin yang tak ternilai harganya. Aku tidak lagi mencari pengakuan; aku mencari kebermanfaatan.
Ketika sekolah itu berdiri kokoh, aku tahu aku harus kembali ke kota, kembali menghadapi dunia yang pernah meremehkanku. Namun, kota yang akan kudatangi bukanlah kota yang sama yang kutinggalkan, karena aku membawa fondasi baru, fondasi yang dibangun di atas kesabaran dan debu.
.png)
.png)
