JABARONLINE.COM - Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas global. Konfrontasi langsung antara Iran dengan Israel yang didukung penuh oleh Amerika Serikat (AS) akhirnya pecah ke permukaan. Situasi mencekam ini diprediksi akan membawa guncangan hebat terhadap tatanan ekonomi dunia dalam waktu dekat.

Jakarta menjadi salah satu pusat perhatian terkait bagaimana pemerintah akan merespons gejolak internasional ini secara taktis. Berdasarkan laporan Beritasatu.com, ketegangan militer tersebut memicu kekhawatiran serius mengenai ketersediaan pasokan energi di pasar global. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak perlu mengambil langkah antisipatif guna meredam dampak negatif di dalam negeri.

Konflik geopolitik ini bukan sekadar urusan militer, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan ekonomi nasional. Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi konsekuensi logis yang sulit dihindari akibat gangguan jalur distribusi di wilayah konflik. Pemerintah dituntut untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga energi yang bisa terjadi kapan saja.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman, Rizky Yudaruddin, memberikan sorotan tajam terkait fenomena krusial ini. Ia menekankan bahwa pemerintah Indonesia harus segera meningkatkan kesiagaan dalam menghadapi dinamika pasar energi global yang tidak menentu. Menurutnya, momentum ini menjadi pengingat keras bagi otoritas terkait untuk mengevaluasi strategi ketahanan nasional.

Rizky Yudaruddin juga mengingatkan pentingnya percepatan dalam mewujudkan swasembada energi secara mandiri dan berkelanjutan. Ketergantungan terhadap sumber energi luar negeri dinilai sangat berisiko di tengah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik global. Kebijakan yang tepat sasaran sangat dibutuhkan agar daya beli masyarakat tetap terjaga dari ancaman inflasi energi.

Saat ini, berbagai pihak terus memantau pergerakan harga komoditas energi di pasar internasional sebagai dampak dari serangan tersebut. Ketidakpastian politik di Timur Tengah selalu memiliki korelasi langsung dengan lonjakan biaya produksi dan logistik di berbagai negara. Indonesia pun harus bersiap menghadapi skenario terburuk jika perang ini berlangsung dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, penguatan sektor energi domestik menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk bertahan di tengah badai krisis global. Sinergi antara kebijakan fiskal dan ketahanan energi diharapkan mampu meminimalisir dampak buruk dari perang Iran-Israel. Upaya swasembada bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan demi menjaga stabilitas ekonomi tanah air.

Sumber: Beritasatu

https://www.beritasatu.com/ekonomi/2972110/perang-iran-as-pemerintah-harus-siap-hadapi-lonjakan-harga-energi