JABARONLINE.COM - Kebijakan pembatasan penggunaan telepon seluler (ponsel) di lingkungan sekolah tingkat SLTA di Kota Bogor, Jawa Barat, mulai menunjukkan hasil yang signifikan dan positif. Salah satu sekolah yang menerapkan aturan ketat ini adalah SMAN 5 Kota Bogor.
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mengalihkan fokus siswa dari gawai ke aktivitas belajar dan interaksi sosial di lingkungan sekolah. Dampak yang terlihat jelas adalah semakin menghidupnya kembali permainan tradisional di antara para siswa.
Setiap pagi sebelum jam pelajaran resmi dimulai, seluruh siswa diwajibkan untuk menyerahkan perangkat ponsel mereka kepada pihak sekolah. Proses pengumpulan ini dilakukan secara terstruktur dan terorganisir oleh masing-masing wali kelas dan ketua kelas.
Perangkat telepon seluler yang telah dikumpulkan tersebut kemudian diamankan dan disimpan di sebuah ruangan khusus yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Penyimpanan ini berlangsung selama jam kegiatan belajar mengajar hingga waktu kepulangan siswa.
Salah satu siswa mengungkapkan apresiasinya terhadap kebijakan yang diterapkan di sekolahnya tersebut. "Seru banget!" ujar salah seorang siswa, menyoroti pengalaman baru yang mereka rasakan selama larangan ponsel diberlakukan.
Larangan penggunaan gawai saat jam belajar ini secara langsung meningkatkan kualitas interaksi antarsiswa di sekolah tersebut. Mereka kini lebih banyak berkomunikasi tatap muka ketimbang melalui media digital.
Hal ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk kembali mengenal dan mempraktikkan permainan-permainan tradisional yang sempat meredup seiring dominasi teknologi digital. Kebijakan ini menjadi solusi praktis untuk masalah ketergantungan gawai.
Dikutip dari Beritasatu.com, kebijakan pembatasan penggunaan ponsel di sekolah tingkat SLTA di Kota Bogor, Jawa Barat, menunjukkan dampak positif. Kebijakan ini terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus dan interaktif.
Dilansir dari Beritasatu.com, di SMAN 5 Kota Bogor, larangan penggunaan hand phone selama jam belajar justru meningkatkan interaksi antarsiswa dan menghidupkan kembali permainan tradisional. Hal ini menggarisbawahi pentingnya intervensi struktural dalam membentuk kebiasaan positif.
