Langit sore itu tampak lebih kelabu dari biasanya, seolah mencerminkan kekacauan yang sedang berkecamuk di dalam dadaku. Aku berdiri di persimpangan jalan, menyadari bahwa ego yang selama ini kupuja mulai runtuh perlahan.
Kegagalan besar yang baru saja kualami bukanlah sekadar angka yang hilang, melainkan tamparan keras bagi kesombonganku. Aku mulai belajar bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan untuk tumbuh.
Dalam kesunyian kamar, aku membolak-balik lembaran hari yang terasa seperti bab-bab dalam sebuah Novel kehidupan. Setiap air mata yang jatuh menjadi tinta yang menuliskan kekuatan baru di atas rapuhnya mentalku saat ini.
Aku berhenti menyalahkan keadaan dan mulai menatap cermin untuk mencari siapa yang paling bertanggung jawab atas langkahku. Ternyata, menjadi dewasa bukan tentang seberapa banyak kita menang, tapi seberapa anggun kita saat menghadapi kekalahan.
Ibu sering berkata bahwa kedewasaan adalah kemampuan untuk tetap tenang saat badai datang menghantam tanpa peringatan. Kini, kata-kata itu bukan lagi sekadar nasihat usang, melainkan kompas yang memandu setiap keputusan sulit yang kuambil.
Aku mulai menghargai hal-hal kecil, seperti aroma kopi di pagi hari dan ketenangan saat tidak perlu membuktikan apa pun kepada dunia. Ambisi yang meledak-ledak kini berganti dengan ketulusan untuk menjalani peran dengan sebaik-baiknya tanpa banyak mengeluh.
Perjalanan ini memang menyakitkan, namun rasa sakit itulah yang mengikis lapisan kekanak-kanakan yang selama ini membelenggu jiwaku. Aku bukan lagi orang yang sama, melainkan pribadi yang lebih tenang dan penuh dengan penerimaan diri.
Teman-teman lamaku mungkin akan terkejut melihat caraku menanggapi masalah dengan senyuman yang jauh lebih tulus. Kedewasaan ternyata adalah hadiah terindah yang dibungkus dalam kertas kado kesedihan dan perjuangan tanpa henti.
Pada akhirnya, kita semua adalah penulis bagi takdir kita sendiri yang terus berproses tanpa pernah benar-benar berhenti. Namun, apakah aku benar-benar sudah cukup dewasa, ataukah ini hanyalah awal dari ujian yang jauh lebih besar?
.png)
.png)
