JABARONLINE.COM - Di era digital saat ini, sebuah potongan video pendek dari lingkungan sekolah sering kali memicu reaksi keras publik tanpa memahami konteks yang sebenarnya terjadi. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi para pendidik yang melihat adanya ketimpangan antara apa yang tampak di layar dengan realitas proses pendidikan sehari-hari.
Dra. Sitti Dahlia Azis, seorang Guru Pendidikan Pancasila di SMAN 3 Pinrang, menyoroti betapa krusialnya sikap hati-hati dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang publik. Dilansir dari tulisan opininya, beliau menekankan bahwa setiap kejadian di sekolah merupakan hasil dari rangkaian interaksi yang panjang.
"Dalam setiap peristiwa yang muncul di ruang publik, kita sering dihadapkan pada potongan informasi yang tampak jelas namun belum tentu utuh makna dan prosesnya, sehingga kehati-hatian sangat diperlukan agar tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan," ujar Dra. Sitti Dahlia Azis.
Sebuah kejadian di sekolah tidaklah lahir dari ruang kosong, melainkan tumbuh dari budaya kelas dan komunikasi yang telah dibangun antara guru dan siswa dalam waktu yang lama. Apa yang terekam dalam satu momen singkat hanyalah fragmen kecil dari dinamika sekolah yang jauh lebih luas.
"Apa yang terekam dalam satu momen—baik melalui video atau potongan peristiwa—sering kali hanyalah fragmen kecil dari dinamika yang lebih luas dalam hubungan antara pendidik dan peserta didik," kata Dra. Sitti Dahlia Azis.
Etika komunikasi menjadi pilar utama yang harus dievaluasi secara menyeluruh untuk melihat apakah interaksi masih berada dalam koridor profesional. Hal ini mencakup perilaku siswa yang tidak bisa dipisahkan dari ekosistem kelas serta budaya pergaulan yang terbentuk di dalamnya.
"Penting untuk melihat pola interaksi yang berulang, apakah masih berada dalam koridor profesional atau sudah bergeser menjadi wilayah yang kabur batasnya," jelas Dra. Sitti Dahlia Azis.
Pembinaan karakter siswa semestinya dilakukan secara kolaboratif, melibatkan guru mata pelajaran, guru Bimbingan Konseling (BK), hingga guru Pendidikan Agama. Sinergi antar-elemen ini bertujuan untuk memahami dan membimbing perkembangan peserta didik secara utuh dan terintegrasi.
Di tengah derasnya arus media sosial, batas antara ruang edukasi dan ekspresi informal kini semakin menipis dan mudah sekali menjadi bias. Kesadaran kolektif diperlukan untuk memaknai bagaimana setiap interaksi di lingkungan pendidikan direkam dan ditampilkan ke publik.
