JABARONLINE.COM - Gangguan signifikan kembali terjadi pada layanan kereta api di lintas Cianjur-Sukabumi menyusul bencana tanah longsor yang menerjang jalur utama. Insiden ini secara langsung membatalkan sejumlah jadwal perjalanan kereta api yang melayani rute tersebut.

Peristiwa longsor ini dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi yang mengguyur wilayah Cibeber pada malam hari. Kejadian pada Rabu (22/4/2026) malam tersebut menunjukkan kerentanan infrastruktur perkeretaapian di wilayah tersebut terhadap cuaca ekstrem.

Lokasi spesifik yang terdampak berada di petak jalan antara Cibeber dan Lampegan, titik krusial dalam konektivitas rel Jawa Barat. Tanah longsoran atau gogosan ini menutup total badan jalur kereta api yang baru saja dalam tahap perbaikan.

Detail teknis menunjukkan material longsoran menutupi area sepanjang sekitar 12 meter, dengan kedalaman material yang mencapai empat meter. Kondisi ini membuat jalur rel menjadi tidak memungkinkan untuk dilewati oleh kereta api mana pun untuk sementara waktu.

Akibat dari kerusakan infrastruktur ini, sebanyak enam jadwal keberangkatan Kereta Api (KA) Siliwangi terpaksa harus dibatalkan. Pembatalan ini merupakan langkah mitigasi demi menjamin keselamatan para penumpang dan awak sarana perkeretaapian.

"Longsoran tanah atau gogosan tersebut terjadi di kilometer 73+900 hingga kilometer 74+000, dengan panjang sekitar 12 meter dan kedalaman mencapai 4 meter," demikian keterangan mengenai dimensi bencana tersebut.

Lebih lanjut, dampak dari kejadian ini sangat terasa karena jalur rel yang terdampak sebelumnya sedang menjalani proses perbaikan. "Akibatnya, jalur rel yang sebelumnya tengah dalam proses perbaikan kembali terdampak dan untuk sementara tidak dapat dilalui," jelas sumber terkait.

Keputusan untuk menangguhkan sementara perjalanan KA Siliwangi diambil untuk memberikan ruang bagi tim teknis melakukan pembersihan dan perbaikan darurat. Upaya pemulihan jalur diharapkan dapat segera dilakukan agar layanan dapat beroperasi kembali secara normal.

Dikutip dari Beritasatu.com, insiden yang terjadi di wilayah Cianjur ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana geologi di sekitar jalur transportasi vital. Situasi ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat yang mengandalkan moda transportasi kereta api antarkota tersebut.