Dulu, aku percaya kedewasaan adalah sebuah pencapaian usia, seperti lilin yang ditiup di atas kue. Ruangan studio seni yang dipenuhi aroma cat minyak adalah satu-satunya semestaku, tempat aku bisa bersembunyi dari hiruk pikuk realitas yang menuntut. Aku adalah pemimpi yang hanya tahu cara menorehkan imajinasi di atas kanvas, tanpa beban sedikit pun di pundak.
Namun, semesta punya cara kejam untuk membangunkan kita dari tidur panjang. Ketika badai tak terduga menerpa keluarga, tiba-tiba aku harus berdiri di garis depan, menggantikan peran yang selama ini diemban oleh sosok yang kurasa tak tergantikan. Studio kecil yang tadinya adalah tempat bermain, kini berubah menjadi medan perang finansial yang menuntut perhitungan dan ketegasan.
Aku ingat jelas, malam-malam awal itu dipenuhi tangisan sunyi di balik meja kasir yang dingin. Ada rasa marah dan penolakan yang membuncah, mengapa aku, yang seharusnya sedang mengejar pameran impian, harus terjebak dalam tumpukan tagihan dan negosiasi harga bahan baku. Mimpi-mimpiku terasa seperti debu yang tertiup angin kencang.
Setiap pagi, aku harus memaksakan senyum di hadapan para pelanggan dan karyawan, menyembunyikan kebingungan seorang gadis yang baru saja kehilangan peta hidupnya. Aku mulai belajar bahasa baru—bahasa laporan keuangan, bahasa kepercayaan, dan bahasa pengorbanan yang pahit. Tangan yang terbiasa memegang kuas kini sibuk memegang pena kontrak.
Keputusan terberat adalah saat aku harus menjual beberapa koleksi seni pribadi yang paling kusayangi demi menjaga roda usaha tetap berputar. Rasanya seperti mencabut sebagian dari jiwaku sendiri, tetapi saat melihat mata karyawan yang menggantungkan hidup padaku, ego pribadiku terpaksa diredam. Aku menyadari, tanggung jawab adalah cinta yang termanifestasi dalam tindakan nyata.
Perlahan, studio mulai stabil. Aku tidak lagi bergerak berdasarkan insting, melainkan berdasarkan strategi dan ketenangan yang sebelumnya tak pernah kumiliki. Ada kebanggaan aneh ketika aku berhasil menyelesaikan masalah besar tanpa bantuan siapa pun, sebuah sensasi yang jauh lebih memuaskan daripada menyelesaikan lukisan terbaikku.
Momen-momen berat itu mengajarkanku bahwa kedewasaan bukanlah tentang berapa banyak yang kita raih, melainkan tentang seberapa banyak badai yang mampu kita hadapi tanpa hancur. Ini adalah babak paling intens dan transformatif dalam Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, di mana setiap kesulitan menjadi tinta yang mempertebal karakterku.
Aku mungkin tidak lagi melukis setiap hari seperti dulu, namun mataku kini melihat dunia dengan kedalaman yang berbeda. Ada lapisan empati dan ketahanan yang membuatku menjadi versi diriku yang lebih kuat, lebih utuh, dan yang terpenting, lebih dewasa.
Kini, studio itu berdiri kokoh, bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai bukti kemampuanku bertahan. Namun, di sudut ruangan, kanvas kosong yang lama kutinggalkan masih menungguku. Pertanyaannya, setelah semua badai ini, apakah Aruna yang baru ini masih tahu cara melukis mimpi yang telah lama ia tangguhkan?
.png)
.png)
