Dulu, aku percaya bahwa hidup adalah kanvas yang hanya menunggu sentuhan warna-warna cerah. Aku hidup dalam gelembung kenyamanan, berpikir bahwa rencana yang kubuat di usia dua puluhan akan berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Dunia adalah taman bermain yang aman, dan kedewasaan hanyalah penambahan angka pada usia, bukan sebuah proses yang menyakitkan.
Namun, semesta punya cara brutal untuk mengoreksi pandangan naif itu. Badai datang tanpa peringatan, saat Ayah tiba-tiba jatuh sakit dan semua tumpuan ekonomi keluarga seolah runtuh dalam semalam. Dalam sekejap, aku harus menukar buku-buku kuliah yang wangi dengan seragam kerja di sebuah kedai kopi yang buka sejak subuh.
Malam-malamku kini diisi dengan hitungan uang receh dan rasa lelah yang menusuk hingga ke tulang. Aku sering menangis di balik pintu kamar mandi, bertanya pada langit mengapa takdir harus sekejam ini pada impian yang baru saja mulai mekar. Rasa marah dan kehilangan bercampur menjadi kabut tebal yang membuatku sulit melihat hari esok.
Titik baliknya datang ketika adikku, dengan mata polosnya, menyodorkan hasil ujiannya yang sempurna. Senyumnya yang tulus menyadarkanku bahwa aku tidak boleh tenggelam dalam kepahitan; ada kehidupan lain yang bergantung pada kekuatanku. Aku harus berhenti menjadi korban dan mulai menjadi nakhoda.
Aku mulai belajar menghargai setiap remah waktu dan setiap tetes keringat. Setiap tegukan kopi pahit yang kuseduh untuk pelanggan seolah mengingatkanku pada rasa pahitnya realitas yang kini harus kutelan. Aku menemukan kekuatan tak terduga dalam rutinitas yang monoton, di mana tanggung jawab terasa lebih berat daripada beban buku-buku tebal.
Aku menyadari bahwa setiap kesulitan, setiap pengorbanan yang kualami, adalah babak penting dalam sebuah skenario besar. Inilah yang disebut Novel kehidupan, sebuah narasi yang tidak bisa diedit atau di-ulang, yang menuntut karakter utamanya untuk bertransformasi atau hancur. Aku memilih untuk bertransformasi.
Perlahan, aku tidak lagi menganggap kedewasaan sebagai kutukan, melainkan sebagai anugerah yang mahal. Anugerah untuk melihat dunia apa adanya, tanpa filter ilusi masa muda. Wajahku mungkin kini tampak sedikit lebih lelah, tetapi mataku memancarkan ketenangan yang tak pernah kumiliki sebelumnya.
Aku belajar bahwa kedewasaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak pencapaian yang kita raih, melainkan seberapa tangguh kita berdiri setelah dihantam kegagalan. Luka-luka itu tidak hilang; mereka hanya berubah menjadi peta jalan yang menunjukkan seberapa jauh aku telah melangkah.
Kini, aku berdiri di persimpangan yang baru, tidak lagi takut pada badai. Pertanyaannya bukan lagi, "Kapan badai ini akan berakhir?" tetapi, "Apa yang akan aku lakukan dengan sisa puing-puing ini?" Dan aku tahu, jawabannya adalah membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
.png)
.png)
