Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah pencapaian, sebuah titik di mana semua keraguan hilang dan peta masa depan terbentang jelas. Selama ini, hidupku terbingkai oleh buku-buku tebal, aroma kopi di perpustakaan, dan janji beasiswa yang seolah takkan pernah berakhir. Aku hidup dalam gelembung idealisme yang nyaman, percaya bahwa kerja keras selalu berbanding lurus dengan hasil yang manis.

Namun, kenyataan memiliki cara yang brutal untuk merobek tirai ilusi itu. Tepat di semester akhir, ketika tesisku hampir rampung, dana beasiswa yang menjadi sandaranku mendadak terhenti tanpa peringatan. Dalam sekejap, impian wisuda mewah berganti menjadi perhitungan dingin: uang sewa, biaya hidup, dan sisa utang kuliah yang mencekik.

Keterpurukan itu terasa seperti jatuh ke dalam jurang tanpa dasar, di mana aku harus meninggalkan dunia akademis yang kucintai demi bertahan hidup. Aku menukar malam-malam penuh riset dengan seragam kusam sebagai pelayan di sebuah warung makan 24 jam. Tangan yang terbiasa memegang pena kini harus mengangkat piring-piring berminyak dan menyeka meja yang lengket.

Setiap malam adalah pelajaran yang menyakitkan. Rasa lelah fisik yang tak pernah kukenal sebelumnya mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang teori dan logika, melainkan tentang daya tahan dan pengorbanan sunyi. Aku mulai melihat rekan kerjaku, para ibu dan bapak yang bekerja keras demi sesuap nasi, dengan mata yang berbeda.

Mereka adalah para penyintas sejati, orang-orang yang tidak memiliki kemewahan untuk meratapi nasib. Melihat senyum tulus mereka di tengah jam kerja yang melelahkan membuatku malu atas keluhanku selama ini. Aku menyadari bahwa kesengsaraan yang kupikir adalah akhir, ternyata hanyalah awal dari pemahaman yang lebih dalam.

Inilah babak paling jujur dari Novel kehidupan yang harus kubaca; babak di mana aku diuji bukan oleh kecerdasan, melainkan oleh kerendahan hati. Aku belajar bahwa martabat tidak terletak pada gelar yang tersemat, melainkan pada ketulusan keringat yang jatuh di lantai.

Perlahan, uang saku terkumpul. Namun, yang jauh lebih berharga adalah perubahan di dalam diriku. Jemariku kini memiliki kapalan, tetapi jiwaku terasa lebih ringan dan mataku melihat dunia dengan spektrum warna yang lebih luas.

Aku tidak lagi mengukur kesuksesan dari kecepatan meraih garis akhir, melainkan dari kemampuan untuk bangkit setiap kali terjatuh. Pengalaman pahit ini telah mencabut akar keangkuhanku dan menumbuhkan empati yang tak ternilai harganya.

Kini, aku kembali ke kampus, membawa serta bau asap dapur dan kelelahan yang berharga. Aku tahu, tesis ini akan selesai, tetapi Risa yang menyelesaikannya bukanlah Risa yang dulu. Pertanyaannya adalah, setelah semua yang kulewati, apakah aku masih bisa menyesuaikan diri dengan kemewahan idealisme yang pernah kurasakan?