Dulu, aku menjalani hari-hari dengan keyakinan buta bahwa fondasi yang menopangku tidak akan pernah runtuh. Dunia adalah panggung yang cerah, di mana setiap kesulitan hanyalah drama kecil yang pasti berakhir bahagia. Aku naif, terlalu nyaman dalam gelembung yang diciptakan oleh orang-orang terkasih.
Titik balik itu datang tanpa peringatan, seperti badai yang tiba-tiba mematikan listrik di tengah malam. Kehilangan yang tak terduga memaksa tanganku meraih kemudi kehidupan, padahal aku bahkan belum mahir membaca peta. Tiba-tiba, tawa riang berganti hening yang menuntut pertanggungjawaban atas setiap keputusan.
Malam-malam panjang menjadi saksi bisu kelelahan yang tak terucapkan. Aku harus belajar mengurus hal-hal yang dulu hanya berupa istilah asing di telinga—administrasi, keuangan, dan yang paling sulit, mengurus hati yang remuk tanpa membiarkannya terlihat di depan umum. Beban itu terasa mencekik, membuatku bertanya apakah aku sanggup melaluinya.
Di tengah kebingungan itu, aku sadar bahwa cerita hidupku tidak ditulis oleh orang lain; ini adalah babakku sendiri. Aku mulai melihat perjuangan ini sebagai bagian integral dari sebuah Novel kehidupan yang harus kuselesaikan, bukan sebagai hukuman. Setiap air mata yang jatuh adalah tinta, dan setiap kegagalan adalah revisi penting dalam naskah.
Aku mulai membangun kembali dari puing-puing, satu bata demi satu. Aku belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa cepat aku bangkit, melainkan pada kemampuan untuk terus berjalan meskipun kaki terasa lumpuh. Rasa sakit itu mengajarkanku disiplin, ketahanan, dan yang paling berharga, empati.
Perlahan, sosok diriku yang lama mulai memudar. Senyumku mungkin tidak secerah dulu, namun mataku kini membawa kedalaman yang tidak pernah kumiliki. Aku tidak lagi mencari kenyamanan, melainkan mencari tantangan yang akan membuktikan batas kemampuanku.
Kedewasaan ternyata bukan pencapaian usia, melainkan akumulasi dari luka yang berhasil kita rawat hingga sembuh. Bekas luka itu kini menjadi kompas, menunjukkan arah yang lebih jujur dan otentik dalam menjalani hari-hari.
Namun, di balik semua pelajaran itu, ada satu pertanyaan yang masih menggantung: Apakah harga dari kedewasaan ini adalah keharusan untuk selalu merasa sendiri, bahkan di tengah keramaian?
.png)
.png)
