JABARONLINE.COM - Pemerintahan Iran kini tengah menghadapi dilema kebijakan strategis setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu dengan Teheran. Dilema ini menciptakan garis pemisah yang jelas mengenai arah hubungan luar negeri negara tersebut ke depan.
Perpecahan tersebut terbagi antara kelompok garis keras yang secara vokal mendesak agar konflik militer dengan Amerika Serikat dan Israel dilanjutkan, serta kubu moderat yang mengutamakan dialog dan upaya deeskalasi ketegangan regional.
Menyikapi perpanjangan gencatan senjata tersebut, media pemerintah dan sejumlah elite militer Iran menegaskan kesiapan mereka untuk melanjutkan konfrontasi jika diperlukan. Demonstrasi kekuatan militer bahkan digelar di Teheran bertepatan dengan berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan yang kini diperpanjang.
Dalam demonstrasi yang berlangsung, rudal balistik jenis Khorramshahr-4 dipamerkan di Lapangan Enghelab, sementara di Lapangan Vanak, terlihat personel bertopeng berdiri di atas peluncur rudal Ghadr sambil meneriakkan slogan anti-Amerika Serikat.
Salah satu partisipan aksi, penyanyi religi Hossein Taheri, menyuarakan pandangannya mengenai situasi tersebut. "Apa lagi yang harus dilakukan AS agar itu dianggap pelanggaran gencatan senjata?" ujarnya, seraya menegaskan bahwa pendukung pemerintah akan terus turun ke jalan hingga mereka dapat "membalas dendam", Dikutip dari CNBC Indonesia.
Televisi pemerintah Iran turut memperkuat narasi yang menganjurkan sikap keras dalam menghadapi Amerika Serikat. Seorang pembawa acara bahkan mengklaim, tanpa memberikan sumber spesifik, bahwa mayoritas warga Iran lebih memilih kembali berperang daripada harus memberikan konsesi dalam setiap proses negosiasi.
Di sisi lain, tekanan militer tetap dipertahankan, di mana Markas militer Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa pasukan mereka siap untuk merespons segala bentuk agresi "kapan saja". Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah menyita dua kapal di wilayah Selat Hormuz.
Komandan kedirgantaraan IRGC, Majid Mousavi, menyampaikan peringatan keras kepada negara-negara tetangga mengenai potensi eskalasi. "Jika wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di Timur Tengah," kata Majid Mousavi, Dikutip dari Al Jazeera, Kamis (23/4/2026).
Ketegangan ini juga meluas ke ranah digital, di mana Kantor berita Tasnim menyinggung bahwa kabel internet bawah laut bisa menjadi target serangan berikutnya, yang berpotensi menimbulkan "bencana digital" di seluruh kawasan Timur Tengah.
