Aku selalu mengira bahwa peta menuju kedewasaan adalah jalan tol lurus tanpa hambatan, sebuah jalur cepat yang hanya dihiasi pencapaian dan sorak sorai. Di usia dua puluhan, aku membangun menara ambisi yang tinggi, yakin bahwa setiap bata yang kupasang adalah jaminan mutlak atas kebahagiaan dan pengakuan. Aku mendefinisikan kematangan sebagai ketiadaan kesalahan.

Namun, hidup memiliki selera humor yang gelap dan ironis. Kegagalan itu datang seperti badai pasir, tiba-tiba dan tanpa peringatan, meruntuhkan menara yang kubangun dengan keringat dan keangkuhan. Proyek yang kuhabiskan bertahun-tahun untuk mendanainya hancur dalam hitungan bulan, meninggalkan puing-puing bukan hanya secara finansial, tetapi juga mental.

Untuk waktu yang lama, aku hanya mampu duduk di antara reruntuhan, membiarkan rasa malu dan penyesalan menjadi satu-satunya kawan bicara. Aku menjauhi dunia, percaya bahwa kerentanan adalah aib terbesar yang harus disembunyikan. Aku merasa seperti pecundang yang tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Saat itulah aku menyadari, apa yang aku jalani ini adalah sebuah Novel kehidupan yang bab-babnya tidak bisa di-edit ulang, hanya bisa diterima dan dilanjutkan. Kedewasaan ternyata bukanlah tentang menghindari badai, melainkan tentang belajar bagaimana menari saat hujan deras mengguyur tanpa payung. Aku harus melepaskan citra sempurna yang selama ini kurawat dengan susah payah.

Aku mulai melihat orang lain, bukan sebagai pesaing yang harus dikalahkan, tetapi sebagai sesama pejuang yang juga membawa beban dan luka yang tak terlihat. Aku belajar mendengarkan, bukan untuk merespons, melainkan untuk memahami kedalaman emosi manusia. Empati, yang dulunya hanyalah kata-kata manis di buku motivasi, kini menjadi kompas baruku.

Pondasi yang baru kubangun terasa berbeda; ia dibangun dari kerentanan dan kejujuran, jauh lebih kuat daripada yang lama yang hanya tersusun dari ego. Aku tidak lagi takut mengakui bahwa aku tidak tahu, dan aku tidak lagi malu meminta bantuan saat aku benar-benar membutuhkannya. Proses ini menyakitkan, namun membebaskan.

Kedewasaan sejati bukanlah tentang memiliki semua jawaban yang pasti, melainkan tentang berani hidup dengan semua pertanyaan yang tersisa tanpa perlu terburu-buru mencari kesimpulan. Ini tentang menerima bahwa hidup adalah serangkaian kontradiksi yang indah.

Luka-luka yang dulu kuratapi kini menjadi peta yang menunjukkan jalur-jalur yang dulu tidak terlihat di bawah bayangan ambisi buta. Aku memang kehilangan menaraku, tetapi aku menemukan diriku sendiri. Dan kini, saat lembaran baru terbentang, pertanyaan yang muncul adalah: apakah aku akan berani menghadapi babak selanjutnya, yang mungkin jauh lebih rumit, dengan hati yang terbuka?