JABARONLINE.COM - Tensi geopolitik yang kian memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menjadi sorotan masyarakat dunia belakangan ini. Banyak pihak mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut akan melumpuhkan stabilitas ekonomi global secara signifikan. Namun, kondisi ini diprediksi tidak akan memberikan guncangan hebat bagi arus perdagangan internasional milik Indonesia.
Lembaga Center of Reform on Economics (Core) memberikan penilaian mendalam terkait potensi risiko dari perseteruan bersenjata tersebut. Menurut analisis lembaga riset ini, kinerja ekspor dan impor nasional diperkirakan tetap berada dalam posisi yang relatif stabil. Ketegangan yang melibatkan kekuatan besar dunia itu tidak akan menyentuh sektor perdagangan domestik secara langsung.
Ekonom Senior Core, Mohammad Faisal, memberikan penjelasan teknis mengenai alasan di balik optimisme terhadap ketahanan perdagangan Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa dampak dari pecahnya perang di wilayah tersebut cenderung masih sangat terbatas bagi tanah air. Hal ini berkaitan erat dengan posisi Iran dalam peta perdagangan global yang memiliki karakteristik khusus.
Faisal menekankan bahwa Iran merupakan salah satu negara yang sudah sejak lama menghadapi berbagai sanksi serta embargo internasional. Kondisi tersebut membuat jangkauan kerja sama ekonomi Teheran dengan negara lain tidak seluas negara-negara ekonomi utama. Akibatnya, ketergantungan perdagangan global terhadap Iran tidak sebesar pengaruh yang dimiliki oleh kekuatan ekonomi Barat.
Hubungan dagang antara Jakarta dan Teheran selama ini memang tidak mendominasi neraca perdagangan luar negeri Indonesia secara keseluruhan. Skala transaksi yang relatif kecil membuat fluktuasi politik di sana tidak langsung mengganggu rantai pasok nasional. Indonesia tetap mampu menjaga ritme perdagangan dengan mitra strategis lainnya tanpa hambatan berarti dari konflik tersebut.
Meskipun demikian, pemerintah dan pelaku usaha tetap diminta untuk terus memantau perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah secara saksama. Kewaspadaan diperlukan untuk mengantisipasi adanya perubahan kebijakan mendadak dari negara-negara sekutu Amerika Serikat dan Israel. Langkah mitigasi tetap menjadi prioritas guna melindungi kepentingan ekonomi nasional dari ketidakpastian global yang dinamis.
Secara keseluruhan, stabilitas sektor perdagangan Indonesia diproyeksikan tetap terjaga di tengah badai geopolitik yang melanda kawasan Teluk. Analisis dari Core memberikan angin segar bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat menghadapi tekanan eksternal. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan ketahanan pasar domestik menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika internasional ini.
Sumber: Beritasatu
