Deru hujan di balik jendela kaca seolah memanggil kembali memori tentang masa muda yang penuh dengan kepolosan. Aku pernah berpikir bahwa dunia akan selalu berpihak pada setiap mimpi yang kutuliskan di atas kertas putih.

Meninggalkan kenyamanan rumah di pinggiran kota adalah keputusan tersulit yang pernah kuambil demi mengejar sebuah ambisi. Tas punggung tua ini menjadi saksi bisu betapa ringkihnya pundakku saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah perantauan.

Kota besar menyambutku dengan kebisingan yang mencekik dan tatapan-tatapan asing yang tidak menyisakan ruang untuk rasa iba. Di sini, aku belajar bahwa air mata seringkali harus diseka sendiri sebelum sempat jatuh ke lantai yang dingin.

Kegagalan pertama datang tanpa permisi, meruntuhkan seluruh fondasi kepercayaan diri yang telah kubangun bertahun-tahun. Aku tersungkur dalam sepi, menyadari bahwa setiap bab dalam novel kehidupan ini tidak selalu berisi tentang kemenangan yang manis.

Namun, justru dalam kehancuran itulah aku menemukan kepingan jati diri yang selama ini tersembunyi di balik ego yang besar. Kedewasaan ternyata bukan tentang berapa banyak usia yang bertambah, melainkan tentang bagaimana kita bangkit setelah dipukul mundur oleh keadaan.

Aku mulai menghargai setiap peluh dan rasa lelah sebagai bumbu yang mendewasakan cara pandangku terhadap dunia. Tidak ada lagi keluhan yang sia-sia, yang ada hanyalah keberanian untuk menatap hari esok dengan senyum yang lebih tulus.

Teman-teman lama mungkin tidak akan lagi mengenaliku sebagai sosok yang manja dan selalu bergantung pada uluran tangan orang lain. Kini, tanganku sendiri yang memegang kendali atas setiap pilihan pahit yang harus kuambil demi masa depan yang lebih bermakna.

Setiap luka yang pernah menganga kini telah berubah menjadi bekas jahitan yang menguatkan mental dan jiwaku. Aku bersyukur atas segala badai yang datang, karena tanpanya aku mungkin masih terjebak dalam delusi masa kecil yang semu.

Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang memaafkan masa lalu dan merangkul ketidakpastian dengan hati yang lapang. Namun, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi bab berikutnya yang mungkin jauh lebih menantang dari ini?