Langit sore itu seakan ikut menangis, menumpahkan segala duka yang selama ini kusimpan rapat di balik senyum palsu. Aku menyadari bahwa setiap tetes hujan membawa kenangan tentang ambisi yang hancur berkeping-keping.
Kegagalan besar yang kuhadapi bukan sekadar akhir dari sebuah rencana, melainkan awal dari perjalanan batin yang panjang. Aku terpaksa menanggalkan ego remaja yang selama ini merasa paling tahu segalanya tentang dunia.
Di tengah kesunyian malam, aku belajar mendengarkan detak jantungku sendiri yang berbisik tentang ketabahan. Ternyata, menjadi dewasa bukan berarti memiliki semua jawaban, melainkan berani hidup dalam ketidakpastian.
Lembar demi lembar hari kulewati dengan mencoba memaafkan diri sendiri atas segala kesalahan masa lalu yang membelenggu. Aku mulai memahami bahwa luka adalah guru paling jujur yang pernah kutemui di persimpangan jalan.
Setiap babak yang kulalui terasa seperti bagian dari sebuah Novel kehidupan yang penuh dengan plot twist tak terduga. Aku bukan lagi sekadar pembaca, melainkan penulis yang memegang kendali penuh atas tinta takdirku sendiri.
Perubahan itu tidak datang dengan ledakan besar, melainkan melalui keheningan saat aku memilih untuk tetap tenang di bawah tekanan. Kedewasaan menyelinap masuk ketika aku berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mengambil tanggung jawab.
Aku melihat wajah di cermin dan menemukan sorot mata yang jauh lebih dalam serta penuh dengan pengertian. Kini, aku menghargai setiap proses kecil, karena di sanalah letak kekuatan sejati seorang manusia.
Jalan di depanku mungkin masih berkabut dan penuh dengan tantangan yang belum terpecahkan. Namun, aku tak lagi takut tersesat karena aku telah menemukan kompas di dalam jiwaku sendiri.
Kedewasaan adalah saat kita menyadari bahwa pelangi hanya akan muncul setelah badai yang paling hebat mereda. Apakah kau sudah siap untuk memaafkan badai dalam hidupmu dan mulai menulis bab baru yang lebih bermakna?
.png)
.png)
