JABARONLINE.COM - Matahari terbenam di balik gedung-gedung tinggi, menyisakan semburat jingga yang terasa perih di mataku. Aku berdiri di balkon, meremas surat penolakan yang telah menghancurkan seluruh rencana masa depanku.

Kegagalan itu datang tanpa permisi, meruntuhkan menara ego yang kubangun dengan penuh kesombongan selama bertahun-tahun. Ternyata, dunia tidak berputar sesuai keinginanku, dan aku hanyalah butiran debu di tengah badai kenyataan.

Malam-malam panjang kuhabiskan dengan meratapi nasib, mempertanyakan mengapa takdir begitu kejam merampas segalanya. Namun, di dalam kesunyian kamar yang dingin, aku mulai mendengar suara hatiku yang paling jujur berbicara.

Setiap luka yang kurasakan perlahan berubah menjadi tinta yang menuliskan bab-bab baru dalam novel kehidupan yang sedang kujalani ini. Aku menyadari bahwa kedewasaan tidak diukur dari berapa banyak kemenangan yang kuraih, melainkan dari caraku bangkit.

Aku mulai belajar melepaskan apa yang tidak bisa kukendalikan dan fokus pada apa yang masih bisa kuperbaiki. Marah kepada keadaan hanya akan membuang energi, sementara memaafkan diri sendiri adalah kunci pembuka pintu kedamaian yang sesungguhnya.

Teman-teman lama datang dan pergi, namun mereka yang bertahan adalah cermin dari siapa diriku yang sebenarnya saat ini. Aku tak lagi mengejar pengakuan semu dari orang lain, karena kini aku lebih menghargai ketenangan batin.

Langkahku kini terasa lebih ringan meskipun beban yang kupikul sebenarnya belum sepenuhnya hilang dari pundak yang mulai menguat. Ada kekuatan baru yang tumbuh dari sisa-sisa reruntuhan mimpiku, sebuah ketangguhan yang tak pernah kupunya di masa lalu.

Kedewasaan adalah seni untuk tetap tersenyum meskipun hati sedang berdarah, dan tetap melangkah meskipun arah belum sepenuhnya jelas. Sebab pada akhirnya, bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang seberapa bijak kita memaknai setiap jengkal perjalanan yang telah terlewati.