JABARONLINE.COM, Minahasa Selatan – Produk olahan sabut kelapa asal Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, berhasil menembus pasar internasional melalui ekspor perdana ke Guangzhou, China. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan hilirisasi komoditas lokal dan penguatan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pada Selasa (28/4/2026), Rumah Produksi Bersama (RPB) Minahasa Selatan mengekspor dua kontainer produk turunan sabut kelapa berupa coco fiber, husk chip, dan peat blok dengan total nilai mencapai Rp98.682.144.

Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Ali, menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil nyata transformasi pengelolaan sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

“Prestasi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah di pasar internasional,” ujarnya.

Minahasa Selatan sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Sulawesi Utara. Dengan luas perkebunan mencapai 46.451 hektare, daerah ini menghasilkan sekitar 43.980 ton kelapa pada 2025, atau berkontribusi sebesar 16,4 persen terhadap total produksi provinsi.

Potensi ekonomi dari sabut kelapa dinilai sangat besar. Dari setiap 100 kilogram kelapa, dapat dihasilkan sekitar 25 kilogram sabut yang kemudian diolah menjadi 7,5 kilogram coco fiber dan 16 kilogram coco peat. Di pasar domestik, coco fiber memiliki nilai jual hingga Rp40 ribu per kilogram, sedangkan coco peat sekitar Rp13 ribu per kilogram.

Produk coco fiber memiliki banyak manfaat, mulai dari perlengkapan rumah tangga, dekorasi, komponen industri dan otomotif, media tanam, hingga geotekstil untuk mencegah erosi.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, pemerintah membangun Rumah Produksi Bersama (RPB) pada 23 September 2022 sebagai strategi percepatan hilirisasi kelapa. Melalui fasilitas ini, pengolahan komoditas kelapa menjadi lebih terintegrasi sehingga memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani dan pelaku UMKM.

Ali menjelaskan, sebelumnya petani hanya memanfaatkan buah, tempurung, dan air kelapa. Kini, melalui pendampingan dan penguatan ekosistem bisnis oleh Kementerian UMKM, sabut kelapa yang dulu dianggap limbah berhasil diubah menjadi produk ekspor bernilai tinggi.

Keberhasilan ekspor ke China, salah satu pasar terbesar produk sabut kelapa dunia, menjadi bukti bahwa produk UMKM Indonesia mampu memenuhi standar pasar global.