Dahulu, dunia bagiku hanyalah hamparan kanvas putih yang menunggu untuk diwarnai oleh kuas ambisi. Aku hidup dalam gelembung kenyamanan, yakin bahwa setiap langkah telah dipetakan dengan rapi menuju puncak impian akademikku. Hidup terasa ringan, sebuah melodi indah tanpa nada minor yang mengganggu.
Namun, kenyamanan itu runtuh dalam satu malam dingin, seperti menara kartu yang disapu angin badai. Sebuah panggilan telepon mengubah segalanya, memaksa tanganku melepaskan buku-buku kuliah demi memegang kunci toko kerajinan kecil milik Ayah yang tiba-tiba sakit. Aku harus menjadi nahkoda di kapal yang bahkan tidak tahu cara mengoperasikannya.
Transisi dari mahasiswi berprestasi menjadi pengelola bisnis yang hampir bangkrut terasa seperti terjun bebas tanpa parasut. Aku bergumul dengan angka-angka di pembukuan, menghadapi pemasok yang galak, dan mencoba tersenyum pada pelanggan meski hatiku remuk. Rasa malu dan takut menjadi teman setiaku di setiap subuh yang dingin.
Aku sering menangis di balik meja kasir yang sepi, bertanya-tanya mengapa takdir begitu kejam merenggut masa mudaku. Kegagalan demi kegagalan kecil terjadi; pesanan yang salah, produk yang cacat, dan uang sewa yang menunggak. Aku menyadari, menjadi dewasa ternyata bukan tentang usia, melainkan tentang kemampuan menelan pil pahit tanggung jawab.
Di tengah kekacauan itu, aku mulai menemukan pelajaran berharga. Ini adalah *Novel kehidupan* yang sesungguhnya, di mana alur ceritanya tidak bisa diulang dan akhir bahagianya tidak dijamin. Aku belajar bahwa ketekunan adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada bakat semata.
Perlahan, aku mulai berdiri tegak. Aku belajar bernegosiasi, merancang strategi pemasaran baru, dan yang paling penting, belajar memercayai instingku sendiri. Toko kecil itu tidak hanya menjadi tanggung jawab, tetapi juga menjadi arena tempur pribadiku untuk membuktikan bahwa aku mampu bertahan.
Meskipun mimpi lamaku tentang gelar tinggi harus tertunda, aku tidak lagi merasa kehilangan. Aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih substansial: karakter. Aku melihat diriku di cermin dan menemukan sorot mata yang berbeda, sorot mata seseorang yang pernah jatuh, namun tahu cara bangkit dengan kedua tangan sendiri.
Kini, ketika toko mulai menunjukkan tanda-tanda stabil, aku menyadari bahwa luka-luka di masa sulit itu adalah guratan yang membentuk kedewasaan. Rasa sakit adalah guru yang paling jujur, dan ia telah mengajariku cara menghargai setiap helaan napas perjuangan.
Apakah aku menyesal? Tidak. Karena aku tahu, jika aku tidak pernah dipaksa meninggalkan gelembung itu, aku mungkin akan tetap menjadi versi diriku yang rapuh dan naif. Sekarang, aku siap menghadapi babak apa pun yang dituliskan takdir, sebab aku telah lulus dari sekolah kehidupan yang paling keras.
.png)
.png)
