JABARONLINE.COM - Di era hiper-konektivitas saat ini, jempol kita sering kali bergerak lebih cepat daripada kemampuan hati untuk memproses informasi. Fenomena *scrolling* di media sosial seperti TikTok atau Instagram sering kali meninggalkan residu berupa rasa tidak berdaya dan perasaan "tertinggal". Kita menyaksikan potongan-potongan kesuksesan orang lain—mulai dari karier yang mapan, pernikahan yang tampak sempurna, hingga kemewahan duniawi—yang tanpa sadar memicu timbulnya benih-benih *insecure*.

Tekanan sosial digital ini, yang sering disebut sebagai FOMO (*Fear of Missing Out*), sesungguhnya adalah ujian bagi kesehatan mental dan spiritual kita. Ketika mata terlalu sering terpaku pada nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, hati cenderung buta terhadap limpahan anugerah yang ada di depan mata sendiri. Islam mengajarkan bahwa setiap jiwa memiliki garis waktu dan ketetapan rezeki yang telah diatur dengan sangat presisi oleh Al-Khaliq, sehingga tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk merasa kerdil di hadapan pencapaian sesama makhluk.

Langkah fundamental untuk menyembuhkan jiwa dari jerat kompetisi semu ini adalah dengan menghidupkan kembali rasa syukur yang sadar (*mindful gratitude*). Syukur bukan sekadar ucapan lisan, melainkan pengakuan mendalam bahwa apa pun yang kita miliki saat ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang paling tepat untuk kita. Allah SWT telah memberikan jaminan dalam Al-Qur'an bahwa rasa syukur adalah kunci pembuka pintu-pintu kemudahan yang lebih luas lagi, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Terjemahan: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS. Ibrahim: 7)

Untuk menjaga kestabilan hati di tengah gempuran pamer kemewahan digital, Rasulullah SAW memberikan sebuah formula psikologis dan spiritual yang sangat ampuh. Beliau mengajarkan kita untuk mengubah arah pandang dalam urusan duniawi agar kita tidak meremehkan karunia Allah. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Terjemahan: "Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Muslim No. 2963)

Kita juga harus menyadari bahwa Allah SWT membagi rezeki dan kelebihan dengan cara yang berbeda-beda untuk setiap hamba. Ada yang diuji dengan kekayaan, dan ada yang diuji dengan kesempitan. Menginginkan apa yang menjadi milik orang lain secara spesifik tanpa mau memikul beban ujian yang menyertainya adalah sebuah kekeliruan. Al-Qur'an secara eksplisit melarang kita untuk berangan-angan memiliki apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian orang lainnya:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Terjemahan: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikarunikan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nisa: 32)

Sebagai kesimpulan, mari kita pahami bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa banyak *likes* yang kita dapatkan atau seberapa mewah gaya hidup yang kita pamerkan. Kesuksesan sejati adalah ketika hati kita merasa damai dengan takdir Allah, dan kaki kita tetap teguh melangkah di jalan ketaatan meski dunia di sekitar kita sedang berlari kencang. Kebahagiaan tidak terletak pada kepemilikan, melainkan pada penerimaan yang tulus atas segala ketetapan-Nya.