JABARONLINE.COM - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengambil langkah serius untuk mengatasi tantangan fundamental dalam pendidikan Indonesia, yakni rendahnya capaian literasi dan numerasi siswa. Langkah ini diwujudkan melalui pencanangan penguatan kedua bidang tersebut dengan mengadopsi pendekatan yang disebut Partisipasi Semesta.
Upaya ini muncul sebagai respons langsung terhadap hasil survei internasional yang menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam kecakapan siswa Indonesia. Data Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menjadi sorotan utama dalam evaluasi ini.
Skor rata-rata PISA Indonesia untuk kemampuan matematika tercatat hanya mencapai 366 poin, bahkan mengalami penurunan dibandingkan skor tahun 2018 yang sempat berada di angka 379 poin. Hal ini menunjukkan adanya kemunduran dalam penguasaan konsep matematika dasar.
Sementara itu, dalam survei yang sama, kemampuan membaca siswa Indonesia berada pada skor 359 poin. Untuk bidang sains, skor rata-rata yang dicapai Indonesia adalah 383 poin dari hasil asesmen internasional tersebut.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengakui bahwa dua bidang krusial ini masih menjadi tantangan serius yang harus segera dipulihkan. Program kolaboratif ini dirancang untuk membalikkan tren penurunan tersebut melalui kemitraan strategis.
Pemulihan ini akan dijalankan melalui kolaborasi erat antara Kemendikdasmen dengan dua mitra besar, yakni Tanoto Foundation dan United Nations Children's Fund (Unicef). Kemitraan ini merupakan bagian integral dari upaya memperkuat implementasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) di tingkat sekolah.
"Karena memang kita melihat di lapangan, belum seluruhnya proses belajar, terutama membacakan kemampuan untuk membaca dan menulis itu, diberikan secara tepat. Sering sekali hal ini dilupakan," kata Mu'ti saat memberikan keterangan di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat pada Kamis (9/4/2026).
Mu'ti menegaskan bahwa fokus utama dari program pemulihan ini adalah jenjang sekolah dasar. Prioritas diberikan pada penguatan fundamental kemampuan menulis dan membaca sejak usia dini.
"Oleh karena itu, maka program ini menjadi sangat penting. Tadi difokuskan pada anak-anak sekolah dasar, dan itu memang menjadi kondisi penting," tambah Mu'ti, menekankan urgensi intervensi di tingkat dasar.
