JABARONLINE.COM - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyuarakan keprihatinan mendalam mengenai capaian literasi dan numerasi siswa Indonesia berdasarkan hasil survei internasional terbaru. Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan peluncuran program penguatan nasional yang merupakan hasil kolaborasi dengan UNICEF dan Tanoto Foundation.
Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menjadi indikator utama atas kondisi yang mengkhawatirkan ini. Skor literasi siswa Indonesia tercatat pada angka 359 untuk membaca, 366 untuk matematika, serta 383 untuk sains.
Secara agregat, posisi Indonesia dalam peringkat global masih relatif tertinggal, menempati urutan ke-63 dari total 81 negara yang berpartisipasi dalam asesmen tersebut. Sebagai respons, Mu'ti telah merumuskan formula perbaikan yang dianggap krusial.
Mu'ti menegaskan bahwa hasil survei tersebut menunjukkan belum adanya pemulihan signifikan dalam prestasi dasar siswa. "Dan itu menunjukkan bahwa kita belum pulih dari permasalahan rendahnya prestasi literasi dan numerasi. Kita belum sepenuhnya mampu mengatasi permasalahan yang sangat mendasar dengan kemampuan dasar," kata Mu'ti di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat pada Kamis (9/4/2026).
Perbaikan fundamental ini, menurut pandangan Mendikdasmen, harus dimulai secara sistematis sejak jenjang Sekolah Dasar (SD). Setidaknya terdapat tiga pendekatan utama yang harus segera diimplementasikan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Fokus utama yang pertama adalah penguatan kompetensi dasar siswa melalui implementasi pembelajaran yang benar dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Pembelajaran yang efektif harus mempertimbangkan aspek psikologis dan cara berpikir anak, bukan semata-mata berdasarkan usia kronologis.
"Kemampuan logika bisa dipahami dari bagaimana mereka memecahkan soal. Hari ini saya mendapatkan kiriman video dari seorang kawan yang menarik, atau seorang anak SD kelas 3. Ia mengatakan matematika tuh bukan soal angka-angka tetapi matematika itu soal logika," kata Mu'ti.
Oleh karena itu, Mu'ti mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk orang tua dan guru, untuk menanamkan apresiasi dan rasa cinta siswa terhadap konsep logika dalam matematika terlebih dahulu. Hal ini penting sebelum masuk ke ranah perhitungan yang kompleks.
Langkah kedua yang ditekankan adalah upaya membangun budaya membaca secara berkelanjutan sejak usia dini. Membaca harus dipahami lebih dari sekadar kemampuan melafalkan teks, melainkan juga kemampuan untuk menginternalisasi dan memahami esensi dari bacaan tersebut.
