JABARONLINE.COM - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan komitmen kuat dalam mengatasi tantangan literasi dan numerasi di kalangan pelajar Indonesia. Langkah konkret ini diambil menyusul hasil evaluasi yang menunjukkan bahwa capaian kedua kompetensi dasar tersebut masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
Fokus utama dari inisiatif terbaru ini adalah pemanfaatan teknologi mutakhir untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. Kemendikdasmen berencana mengimplementasikan solusi berbasis kecerdasan buatan, khususnya melalui teknik deep learning, dalam upaya perbaikan sistem pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menggarisbawahi pentingnya peningkatan kapasitas para pendidik sebagai garda terdepan perubahan. Oleh karena itu, program pelatihan intensif telah disiapkan untuk menjangkau sejumlah guru terpilih.
"Pihaknya akan gencar memberi pelatihan untuk 1.500 guru," ujar Abdul Mu'ti, menekankan skala intervensi yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.
Program pelatihan masif ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan berbagai organisasi tingkat global yang memiliki rekam jejak kuat di bidang pendidikan. Kemitraan ini diharapkan dapat membawa transfer pengetahuan dan metodologi terbaik ke ekosistem pendidikan nasional.
Adapun pihak-pihak yang digandeng oleh Kemendikdasmen dalam program ini meliputi Tanoto Foundation, Gates Foundation, serta United Nations Children's Fund (Unicef). Kerjasama multisektor ini menjadi fondasi kuat bagi implementasi teknologi baru di lapangan.
Pelatihan tersebut dirancang secara spesifik untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar literasi dan numerasi menggunakan pendekatan yang lebih efektif. Program ini secara bertahap akan menyasar sebanyak 500 Sekolah Dasar (SD) di seluruh Indonesia.
Ke-500 sekolah yang menjadi sasaran program percontohan ini tersebar di enam kabupaten/kota yang berbeda di Indonesia. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada analisis kebutuhan dan potensi dampak dari intervensi program.
Secara geografis, lokasi sekolah penerima manfaat meliputi Kabupaten Tegal, Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Ende. Hal ini menunjukkan upaya pemerataan akses terhadap program peningkatan mutu pendidikan.
