JABARONLINE.COM - Di tengah hiruk-pikuk peradaban modern yang ditandai dengan percepatan teknologi dan arus informasi yang tak terbendung, manusia seringkali kehilangan arah orientasi hidupnya. Fenomena disrupsi bukan hanya merombak tatanan ekonomi dan sosial, melainkan juga menyentuh relung terdalam eksistensi spiritual seorang mukmin. Tauhid, yang secara fundamental merupakan pengakuan atas keesaan Allah, kini menghadapi tantangan baru berupa "tuhan-tuhan kontemporer" dalam wujud materialisme dan pemujaan terhadap logika manusia yang terbatas.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa tauhid bukanlah sekadar hafalan rukun iman yang statis, melainkan energi penggerak yang dinamis dalam setiap helaan napas. Tanpa fondasi akidah yang kokoh, seorang manusia akan mudah terombang-ambing oleh gelombang ketidakpastian zaman yang seringkali menjauhkan hamba dari Sang Pencipta. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kita tentang hakikat pengabdian yang totalitas melalui firman-Nya yang agung:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (muslim).'" (QS. Al-An'am: 162-163)
Kemurnian akidah menuntut kita untuk melepaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk, termasuk penghambaan terhadap ego dan keinginan pribadi yang destruktif. Syirik di zaman modern seringkali tampil dalam bentuk yang sangat halus (syirik khafi), seperti menganggap teknologi sebagai penentu nasib tunggal tanpa melibatkan izin-Nya. Padahal, segala kemajuan yang kita saksikan hari ini hanyalah percikan kecil dari ilmu Allah yang dipinjamkan kepada manusia untuk menguji siapa yang paling bertakwa.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13)
Sejarah mencatat bagaimana para Nabi dan Rasul tetap teguh memegang prinsip tauhid meski harus berhadapan dengan tirani yang luar biasa pada zamannya. Kekuatan mereka bukan terletak pada jumlah pasukan atau kekayaan materi, melainkan pada kedekatan hubungan dengan Allah. Di era digital ini, dakwah tauhid perlu dikemas dengan narasi yang relevan agar mampu menjawab kegelisahan generasi milenial dan Gen Z yang tengah mencari pegangan hidup di tengah arus sekularisme yang semakin kuat.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ
Terjemahan: "Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: 'Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Wahai nak, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika segenap umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.'" (HR. Tirmidzi)
Sebagai kesimpulan, menjaga kemurnian tauhid di era disrupsi adalah perjuangan spiritual yang berkelanjutan untuk memastikan bahwa hati kita tetap terpaut hanya kepada Allah. Marilah kita terus memperbaharui iman kita dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh yang ikhlas. Hanya dengan mengenal Allah secara mendalam melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia, kita akan mampu bertahan dan memenangkan pertarungan melawan godaan materialisme yang semu.
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Terjemahan: "Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang paling baik. Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Hasyr: 23-24)
