JABARONLINE.COM - Shalat merupakan pilar fundamental dalam struktur Islam yang tidak hanya bertumpu pada validitas rukun-rukun lahiriyah semata, melainkan sangat bergantung pada kedalaman dimensi batiniah yang dikenal dengan istilah khusyu. Secara etimologis, khusyu berasal dari akar kata *khasha-a* yang bermakna ketundukan, ketenangan, dan kerendahan hati yang mendalam di hadapan Sang Pencipta. Dalam diskursus keilmuan Islam, para ulama mufassir dan muhaddits sepakat bahwa khusyu adalah ruh dari shalat, sebuah elemen esensial yang menentukan sejauh mana ibadah tersebut diterima dan memberikan dampak transformatif bagi pelakunya.
Keberuntungan seorang mukmin sangat erat kaitannya dengan kualitas kekhusyuan yang ia hadirkan tatkala berdiri menghadap Allah SWT. Al-Qur'an secara eksplisit menempatkan khusyu sebagai kriteria pertama bagi mereka yang meraih kemenangan hakiki. Tanpa kehadiran khusyu, sebuah shalat ibarat jasad yang sempurna secara anatomis namun kehilangan nyawa di dalamnya, sehingga tidak mampu memberikan energi spiritual bagi jiwa yang gersang.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
Terjemahan: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS. Al-Mu'minun: 1-5)
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa meraih khusyu adalah sebuah perjuangan yang berat bagi jiwa yang masih terbelenggu oleh syahwat dan urusan dunia. Allah SWT memberikan isyarat bahwa shalat memang terasa berat, kecuali bagi mereka yang memiliki sifat khusyu—yakni mereka yang memiliki keyakinan kuat akan pertemuan dengan Tuhannya. Keyakinan inilah yang menjadi motor penggerak bagi seorang hamba untuk senantiasa menjaga kualitas perjumpaannya dengan Allah dalam setiap rakaat.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Terjemahan: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)
Rasulullah SAW juga memberikan panduan praktis agar kita dapat mencapai kualitas shalat yang mendalam. Salah satu kiat yang paling menyentuh adalah dengan menganggap setiap shalat yang kita kerjakan sebagai shalat terakhir di dunia ini. Dengan kesadaran akan maut yang bisa menjemput kapan saja, seorang hamba secara natural akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mempersembahkan shalat terbaik sebagai bekal menghadap Sang Khalik.
إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ الْإِيَاسَ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
Terjemahan: "Jika engkau berdiri untuk shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpamitan (akan mati), janganlah engkau mengucapkan suatu perkataan yang engkau akan meminta maaf darinya di kemudian hari, dan kumpulkanlah rasa putus asa (tidak berharap) terhadap apa yang dimiliki manusia." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Sebagai kesimpulan, meraih khusyu adalah sebuah perjalanan spiritual yang kontinu dan membutuhkan latihan yang konsisten. Ia adalah anugerah besar yang harus dijemput dengan kesungguhan hati dan ilmu yang memadai. Dengan memperbaiki kualitas khusyu, kita tidak hanya menggugurkan kewajiban syariat, tetapi juga sedang membangun jembatan cahaya yang menghubungkan hamba yang lemah dengan Tuhannya yang Maha Perkasa.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemahan: "Dia (Jibril) bertanya: 'Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan.' Beliau (Rasulullah) menjawab: 'Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.'" (HR. Muslim)
