Langkah kakiku terasa berat saat menyusuri jalan setapak menuju rumah tua peninggalan kakek di pinggiran kota. Semua ambisi yang kubawa dengan penuh kesombongan kini hancur berkeping-keping, menyisakan sesak yang menghimpit dada.
Aku selalu mengira bahwa kedewasaan hanya diukur dari seberapa banyak harta yang berhasil kukumpulkan di usia muda. Namun, keheningan desa ini justru seolah menertawakan ego yang selama ini telah membutakan mata hatiku.
Di teras kayu yang mulai lapuk, aku menemukan sebuah catatan harian milik mendiang Ibu yang belum sempat kuselesaikan. Lembar demi lembar bercerita tentang ketabahan luar biasa yang tidak pernah kutemukan dalam bisingnya persaingan kota.
Setiap coretan tangannya terasa seperti bab-bab penting dalam sebuah novel kehidupan yang nyata dan penuh luka. Aku mulai menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan tinta untuk menulis cerita yang lebih bermakna.
Aku mulai belajar mencuci pakaianku sendiri dan merawat kebun kecil yang selama ini terbengkalai karena rasa malas. Kesederhanaan ini mengajariku bahwa tanggung jawab atas hal-hal kecil adalah fondasi utama dari seorang pria dewasa.
Malam-malam panjang yang biasanya diisi dengan keluhan, kini berganti dengan doa dan refleksi diri yang sangat mendalam. Air mata yang jatuh bukan lagi tanda kelemahan, melainkan proses pembersihan jiwa dari karat keserakahan masa lalu.
Dunia tidak pernah berputar hanya di sekelilingku, dan kegagalan ini adalah cara semesta memintaku untuk berhenti sejenak. Aku belajar mendengarkan suara alam dan bisikan nurani yang selama ini tenggelam dalam ambisi yang meledak-ledak.
Kini, cermin di sudut kamar tidak lagi menampilkan sosok pemuda yang angkuh dan penuh dengan tuntutan kepada dunia. Ada ketenangan yang terpancar dari tatapanku, sebuah tanda bahwa badai batin telah berhasil kutaklukkan dengan kesabaran.
Kedewasaan ternyata bukan tentang kapan kita sampai di puncak, melainkan bagaimana kita bangkit saat terjatuh di jurang terdalam. Namun, apakah aku benar-benar siap menghadapi rahasia besar yang terselip di halaman terakhir catatan Ibu?
.png)
.png)
