JABARONLINE.COM - Di tengah pusaran zaman yang bergerak begitu cepat, umat manusia kini berada pada persimpangan peradaban yang sering disebut sebagai era disrupsi. Fenomena ini tidak hanya mengubah tatanan sosial dan ekonomi melalui teknologi digital, namun juga memberikan tantangan berat terhadap pilar fundamental eksistensi manusia, yakni tauhid. Modernitas yang membawa serta paham sekularisme dan materialisme sering kali tanpa sadar menggeser orientasi hidup kita, dari yang semula berpusat pada Sang Khaliq menjadi berpusat pada materi, popularitas, dan ego pribadi.

Kesadaran akan hakikat penciptaan menjadi kunci utama dalam menavigasi kehidupan di era yang serba tidak pasti ini. Allah SWT telah menegaskan dengan sangat jelas mengenai tujuan utama keberadaan jin dan manusia di muka bumi ini, agar mereka tidak tersesat dalam labirin dunia yang fana. Penegasan ini mencakup aspek penghambaan total dan keyakinan penuh bahwa hanya Allah-lah Sang Pemberi Rezeki yang Maha Kuat, sehingga manusia tidak perlu merasa khawatir berlebihan terhadap dinamika perubahan zaman, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Terjemahan: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

Manifestasi tauhid yang benar harus melahirkan sikap penyerahan diri secara total (taslim) yang mencakup ibadah ritual maupun sosial. Seorang mukmin yang bertauhid secara murni akan memandang bahwa seluruh aktivitas dunianya, termasuk pekerjaannya di ruang digital, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah. Hal ini merupakan bentuk aksiologi tauhid, di mana nilai-nilai ketuhanan menjadi standar moral dan etika dalam berinteraksi di tengah masyarakat yang kian pragmatis. Keikhlasan dalam beramal menjadi benteng terakhir agar kita tidak terjebak dalam riya digital yang merusak pahala.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).'" (QS. Al-An'am: 162-163)

Lebih jauh lagi, pemurnian akidah di zaman modern ini memerlukan pemahaman yang komprehensif terhadap Al-Qur'an dan Sunnah agar tidak terjatuh ke dalam syirik khafi (syirik tersembunyi). Syirik di masa kini tidak lagi hanya menyembah berhala batu, melainkan bisa berupa ketergantungan hati yang berlebihan kepada sebab-sebab duniawi hingga melupakan Sang Penentu Sebab. Allah SWT mengingatkan bahwa orang-orang yang beriman seharusnya memiliki kecintaan yang paling besar hanya kepada-Nya, melebihi kecintaan terhadap apa pun yang ada di dunia ini.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Terjemahan: "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS. Al-Baqarah: 165)

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Terjemahan: "Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memudaratkanmu, mereka tidak akan bisa memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering." (HR. Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)