JABARONLINE.COM - Di tengah hiruk-pikuk revolusi industri 4.0, wajah dakwah Islam mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan dari mimbar fisik menuju jagat maya yang tanpa batas. Generasi Z, sebagai penduduk asli digital (*digital natives*), kini mendapati diri mereka berada di persimpangan antara derasnya arus informasi dan kebutuhan akan spiritualitas yang murni. Namun, kemudahan akses ini seringkali menjadi pisau bermata dua yang menuntut kewaspadaan tinggi dalam menyerap setiap butir pemahaman agama agar tidak tergelincir dalam pemahaman yang dangkal.
Allah SWT telah memberikan panduan agung mengenai bagaimana seharusnya kebenaran disampaikan, terutama di tengah keberagaman opini yang memenuhi lini masa media sosial kita saat ini. Dakwah bukanlah sekadar adu argumentasi yang kasar atau pamer retorika, melainkan sebuah seni merangkul jiwa dengan penuh hikmah, kelembutan, dan ketulusan yang mendalam. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an yang menjadi landasan utama bagi setiap pengemban risalah dakwah:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Terjemahan: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)
Salah satu pilar yang mulai tergerus di era algoritma ini adalah pentingnya sanad atau silsilah keilmuan yang tersambung secara otoritatif hingga kepada Rasulullah SAW. Di media sosial, siapapun bisa menjadi figur otoritas agama hanya dengan modal kemampuan bicara yang memikat dan jumlah pengikut yang masif di profil mereka. Padahal, dalam tradisi intelektual Islam, ilmu agama bukanlah sekadar transfer informasi digital, melainkan proses panjang *talaqqi* dan *tarbiyah* di bawah bimbingan guru yang kredibel.
Menghadapi banjir informasi yang tidak jarang bercampur dengan berita bohong (hoaks) atau penafsiran yang keliru, sikap *tabayyun* atau verifikasi menjadi kewajiban mutlak bagi setiap muslim digital. Kita tidak boleh menelan mentah-mentah setiap konten yang melintas di beranda tanpa melakukan kroscek mendalam terhadap sumber dan validitas dalil yang digunakan. Allah SWT mengingatkan kita dengan sangat tegas mengenai pentingnya ketelitian dalam menerima informasi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Keberhasilan sebuah dakwah tidak boleh hanya diukur dari statistik angka seperti jumlah "like", "share", atau "comment" yang diperoleh di layar gawai. Indikator sejati dari kesuksesan dakwah adalah sejauh mana pesan tersebut mampu menyentuh relung hati, mengubah perilaku buruk menjadi baik, dan mendekatkan hamba kepada Sang Pencipta. Transformasi batin dan perbaikan karakter inilah yang menjadi tujuan utama dari setiap risalah kenabian yang diwariskan kepada para ulama.
Kita harus menyadari dengan penuh kesadaran bahwa ilmu agama bisa dicabut oleh Allah SWT melalui wafatnya para ulama yang mumpuni dan berintegritas. Jika kita hanya bersandar pada "ustaz algoritma" tanpa bimbingan ulama yang memiliki kedalaman ilmu, maka kesesatan kolektif akan menjadi ancaman nyata bagi masa depan umat. Rasulullah SAW telah memperingatkan hal ini dalam sebuah hadits yang sangat mendalam maknanya:
ReligiMenemukan Allah di Era Algoritma: Revitalisasi Akidah di Zaman Disrupsi
