JABARONLINE.COM - Ilmu akidah merupakan akar tunggang dalam pohon besar keislaman yang menentukan tegaknya seluruh amal ibadah seorang hamba di hadapan Sang Khaliq. Tanpa pemahaman yang lurus mengenai Dzat yang disembah, peribadahan seseorang berisiko kehilangan ruh dan terjebak dalam formalitas ritual yang hampa tanpa arah tujuan. Para ulama mutakallimin telah mewariskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, sebuah ikhtiar intelektual dan spiritual untuk menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk penyimpangan.

Landasan utama dalam mengenal Allah adalah memahami bahwa Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak dan mustahil bagi-Nya memiliki kekurangan sekecil apa pun. Kesadaran ini bermula dari perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dan ayat-ayat qauliyah (wahyu) yang menegaskan keagungan Dzat-Nya. Salah satu rujukan utama dalam memahami keagungan sifat Allah adalah Ayat Kursi yang merangkum kemahakuasaan dan kemandirian-Nya dalam mengelola alam semesta.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Terjemahan: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Baqarah: 255)

Pengenalan terhadap sifat-sifat Allah ini dibagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Kategori Salbiyah, misalnya, berfungsi untuk meniadakan segala sifat yang tidak layak bagi Allah, seperti sifat "Qidam" yang menegaskan bahwa Allah tidak memiliki permulaan. Penegasan mengenai keesaan dan kesucian Allah dari segala kekurangan ini tercermin dalam rangkaian ayat di akhir Surah Al-Hasyr yang sangat agung.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Terjemahan: "Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Hasyr: 23-24)

Kemahakuasaan Allah dalam menciptakan dan mengatur alam semesta merupakan manifestasi dari sifat Qudrat dan Iradat-Nya. Tidak ada satu atom pun yang bergerak di jagat raya ini tanpa izin dan kehendak-Nya. Pemahaman ini seharusnya melahirkan ketundukan total, karena manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba yang fakir di hadapan Dzat Yang Maha Kaya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya mengenai asal-usul penciptaan.

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Terjemahan: "Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." (QS. Al-An'am: 101-102)

Rasulullah SAW senantiasa menekankan pentingnya mengenal nama dan sifat Allah sebagai kunci untuk meraih rida-Nya dan memasuki jannah-Nya. Dalam sebuah hadits yang masyhur, beliau menjelaskan bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah yang mencerminkan sifat-sifat-Nya yang agung. Barangsiapa yang mampu menghayati dan mengamalkan konsekuensi dari nama-nama tersebut, maka baginya jaminan kemuliaan di akhirat kelak.

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghafalnya (menjaganya/menghayatinya), maka ia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil." (HR. Bukhari dan Muslim)