JABARONLINE.COM - Hujan sore itu seolah membawa pesan dari masa lalu yang belum sempat kuselesaikan dengan baik. Aku duduk menatap jendela, menyadari bahwa bayang-bayang masa kecilku kini telah memudar sepenuhnya.

Dahulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal angka yang bertambah di setiap perayaan ulang tahun. Namun, badai yang menghantam keluargaku memaksa aku untuk melepaskan segala kemanjaan lebih cepat dari dugaanku.

Tanggung jawab yang semula terasa mencekik leher perlahan mulai kuterima sebagai bagian dari napas keseharianku. Tidak ada lagi tangan yang selalu siap menopang saat aku terjatuh di atas tanah yang keras.

Dalam kesunyian malam, aku belajar bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara jiwa membersihkan diri. Setiap luka yang menganga justru menjadi fondasi baru yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya.

Aku mulai memahami bahwa setiap bab dalam novel kehidupan ini memiliki tujuannya masing-masing, meski terkadang alurnya menyakitkan. Kedewasaan ternyata lahir dari keberanian untuk tetap berjalan meski kaki terasa sangat berat.

Aku berhenti menyalahkan takdir dan mulai merangkul setiap ketidakpastian yang datang menyapa di depan pintu. Kini, setiap keputusan yang kuambil tidak lagi didasari oleh ego, melainkan oleh kebijaksanaan yang terasah.

Dunia tidak lagi terlihat hitam dan putih, melainkan penuh dengan gradasi warna yang membutuhkan pemahaman mendalam. Aku menemukan kedamaian dalam memaafkan kesalahan masa lalu yang pernah menghantui tidurku.

Menjadi dewasa berarti menyadari bahwa kita tidak bisa mengendalikan segalanya, namun kita bisa mengendalikan cara kita meresponsnya. Aku kini berdiri tegak, memandang masa depan dengan mata yang jauh lebih tenang dan jernih.

Kedewasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang yang terus berlanjut hingga napas terakhir berembus. Maukah kau terus melangkah bersamaku, meski jalan di depan mungkin tak selalu bertabur bunga?