Berabad-abad mereka hidup di bawah tekanan dan penjajahan. Mereka kehilangan kemerdekaan, kehilangan kehormatan, bahkan hampir kehilangan kepercayaan terhadap masa depan.
Dalam keadaan seperti itu mereka datang kepada nabi mereka, yang oleh para ulama disebut sebagai Nabi Samuel. Dengan suara yang diliputi harap sekaligus putus asa mereka berkata, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 246):
“Angkatlah untuk kami seorang raja, agar kami dapat berperang di jalan Allah.”
Nabi Samuel pada awalnya merasa enggan.
Beliau mengetahui betul tabiat Bani Israel yang tidak setia dan sering kali berdusta.
“Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga.”
Mendengar jawaban Nabi Samuel yang seolah tidak percaya, pembesar Bani Israel menegaskan komitmen akan teguh pendirian untuk berjuang di jalan Allah.
“Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan sungguh kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?”
Nabi Samuel kemudian memohon petunjuk kepada Allah. Dari wahyu yang diterimanya, Allah menunjuk seorang lelaki sederhana bernama Thalut sebagai pemimpin mereka.
